Antara Pemimpin Seremonial dan Konseptor (Menelisik Kepemimpinan Bupati Lembata) Oleh Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Bila dihitung sejak kemenangan dalam Pilkada 2024, maka sudah hampir 2 tahun sudah akan berlalu. Meski dengan kemenangan sangat tipis Kanis-Nasir hanya 27% (sementara Jimmy (24%), Thomas Ola (18%). Meski kemenangan tidak seberapa, tetapi itu sudah menjadi rezeki Kanis-Nasir. Karena itu kita perlu memberi waktu agar bisa membuktikannya dalam kepemimpinannya. Karena itu setahun lalu (Mei 2025) saat bersua Bupati saat peresmian SMA SKO SMARD, meski ada kesan awal yang tidak terlalu meyakinkan, penulis merasa perlu butuh waktu untuk bisa menilai. Namun di Agustus 2026, saat kembali hadir di Lembata (meski hanya sebentar), penulis merasa perlu menulis opini ini. Penulis merasa bahwa jenjang waktu yang sudah hampir 2 tahun, seorang pemimpin harusnya sudah dapat merajut konsensus, merapikan struktur eksekutif, dan meluncurkan program-program pemantik perubahan. Pertanyannya, apakah setelah hampir 2 tahun lewat, apakah Bupati (dan Wakil Bupati) Lembata adalah pemimpin konseptor-eksekutor atau sekadar pemimpin seremonial-motivator? Dua model kepemimpinan ini tentu saja memiliki keunggulan dan kelemahan. Seorang pemimpin seremonial akan fokus pada upacara seremoni, simbolisme, pidato, dan peresmian. Hal itu berbeda dengan kepemimpinan konseptor yang fokus pada perumusan kebijakan, intervensi anggaran, dan eksekusi program. Dari segi pola kerja, kepempiminan seremonial lebih bersifat pasif mengikuti agenda protokol birokrasi. Sementara itu pola kerja pemipin konseptor akan sangat aktif melibatkan ‘think-tank’ untuk problem-solving. Pertanyaannya, bagaimana mengkategorikan kepempinan Kanis -Nasir? Apakah kepempinan lebih bersifat seremonial-motivator ataukah konsetor-eksekutor? Bila ditempatkan sebagai pempin konseptor, maka yang terlihat adalah lahirnya program ‘menggigit’ yang terasa dampaknya. Nyatanya, klaim ini menjadi sangat tipis untuk mengatakan nyaris ada. Yang terjadi, kepempimnan Kanis-Nasir lebih terkesan ‘datar-datar saja’. Pada tataran konseptual, nyaris terdengar program menggigit. Malah dengan mudah, warga Lembata akan ingat akan kepempinan terdahulu dengan efek yang terasa: Yance Sunur dengan terobosan kontroversial tetapi berdampak. Thomas Ola hanya 9 bulan tetapi meninggalkan jejak karena mendapatkan dana PEN, dan Marsianus dengan ketelatenan dan profesionalisme dalam mengeksusi program. Untuk TOL dan Marsianus hanya kurang dari setahun tetapi efeknya terasa. Lantas apa yang sudah dicapai Kanis-Nasir yang sudah hampir 2 tahun? Setelah tahun transisi, dahaga publik akan lompatan pembangunan belum juga terobati. Apa yang tersaji di panggung publik Lembata justru pemandangan yang repetitif: bupati yang tiada henti dikalungkan selendang tenun adat. Ia berpindah dari satu panggung peresmian gereja ke acara syukuran rohani lainnya. Ia juga rajin menyapa warga dari podium ke pódium. Di sana ia memberikan motivasi Sikap santun dan kehadiran fisik pimpinan daerah dalam ritual keagamaan maupun adat tentu memiliki nilai simbolis untuk merawat kohesi sosial. Namun, ketika kehadiran simbolis itu mendominasi panggung utama tata kelola daerah, publik layak bertanya: di manakah gagasan besarnya? Di mana program-program terobosan yang “menggigit” untuk mengurai ketimpangan ekonomi, kemiskinan ekstrim, dan keterisolasian wilayah kepulauan Lembata? Perlu Transformasi Seorang bupati semestinya adalah seorang konseptor sejati (conceptualizer). Dalam teori kepemimpinan manajemen klasik Henry Mintzberg (Structure in Fives: Designing Effective Organizations), seorang pemimpin puncak dituntut memiliki conceptual skill. Artinya, dibutuhkan kemampuan melihat organisasi secara holistik, mendiagnosis persoalan kompleks, serta merumuskan visi jangka panjang menjadi strategi aksi yang presisi. Jelasnya, kepemimpinan daerah bukanlah soal mahir menggunting pita atau berpidato manis di hadapan jemaat. Ia tidak perlu ‘kebanyakan’ hadir dalam event religius dengan mendapatkan ruang untuk berbicara dan memotivasi. Padahal kepempinan politik bukan sebuah kepemimpinan seremonial atau motivasional. Itu tugas pemimpin agama yang berkhotbah, karena itulah tugas mereka. Sementara dari seorang bupati ditunggu keberanian merancang arsitektur pembangunan yang berorientasi dampak (impact-driven policy). Untuk menjadi konseptor sejati, seorang kepala daerah tidak bisa bekerja sendirian atau sekadar mengandalkan rutinitas birokrasi teknokratis yang kerap terjebak dalam formalitas APBD. Pemimpin daerah membutuhkan think-tank atau tim perumus kebijakan yang solid, independen, dan berbobot secara intelektual. Sebagaimana ditegaskan oleh pakar otonomi daerah Eko Prasojo, kegagalan desentralisasi sering kali bersumber dari krisis kapasitas konseptual pimpinan daerah yang tidak didukung oleh policy advisory unit yang kapabel. Think-tank inilah yang bertugas memetakan keunggulan komparatif Lembata—baik di sektor maritim, pariwisata berbasis komunitas, maupun komoditas unggulan daerah—menjadi kebijakan publik yang dapat dieksekusi secara terukur. Hal yang tidak kalah penting bagi seorang konseptor, demikian Larry Rossidy dan Ram Charan, tidak saja berhenti berkonsep. Dalam bukunya Execution: The Dicipline of Getting Thins Done), ditekankah bahwa diperlukan juga keberanian untuk eksekusi. Eksekusi bukanlah sekadar perincian teknis yang diserahkan penuh ke bawahan, melainkan sistem intelektual dan komitmen personal dari seorang kepala daerah untuk menyambungkan tiga hal: strategi, operasional, dan manusia. Bila dikaitkan dengan Lembata, maka Bupati tidak bisa hanya menjadi motivator saat seremoni gereja atau acara adat. Tanpa keterlibatan langsung merancang dan memantau eksekusi program, janji politik saat Pilkada tidak akan mewujud dalam APBD yang berorientasi dampak. Mengutip Rhenald Kasali dalam Change! & Self Driving, kepemimpinan yang ditunggu Lembata bukanlah Passenger (penumpang). Pempimpin seprti ini hanya bersifat rutinitas. Yang dinanti adalah pempin bak Driver. Ia dalah pengemudi/konseptor-eksekutor. Pemimpin tipe Passenger hanya mengikuti alur protokoler dan rutinitas ceremonial daerah yang diatur birokrasi, sedangkan Driver secara aktif mengarahkan kendaraan (daerahnya), mengambil risiko, merancang rute baru (konseptor), dan memastikan kendaraan sampai ke tujuan (eksekutor). Evaluasi ini tentu tidak bermaksud menilai negatif kepempinan Kanis-Nasir. Secara positif bisa tertitip pesan bahwa bila terjadi perubahan transformatif dalam 3 tahun mendatang maka rakya takan dengan pasti mempertahankan dan memberi kesempatan untuk periode kedua. Tetapi kalau irama seperti ini saja, maka tidak perlu menunggu dukun untuk meramal karena sudah pasti, kepercayaan itu hanya berhenti setelah lima tahun. Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik – Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Post Views: 21 Navigasi pos Akselerasi Transformasi Pembelajaran Madrasah di Flobamorata: Sinergi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Membangun Generasi Berkarakter, Cerdas, dan Berdaya Saing Global