Ayam vs  Ikan dalam MBG di NTT

Ayam vs  Ikan dalam MBG di NTT

Oleh: Gerardus D Tukan

FST UNIKA Widya Mandira Kupang

WARTA-NUSANTARA.COM–  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan intervensi strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama anak sekolah sebagai generasi masa depan. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), program ini mulai diimplementasikan sejak 2025 dan terus berkembang. Hingga Maret 2026, sekitar 698.298 penerima manfaat telah dilayani melalui 242 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Ini menandakan bahwa MBG telah memasuki tahap operasional luas, meskipun masih belum mencapai target sekitar 1,9 juta penerima di NTT.

Fenomena penting yang muncul dalam impelentasi program ini yaitu dominasi penggunaan daging ayam, terutama ayam beku, dibandingkan ikan sebagai sumber protein hewani. Padahal, sebagai wilayah kepulauan, NTT memiliki potensi perikanan yang besar. Pertanyaannya, apakah pilihan ini didasarkan pada keunggulan gizi, atau justru karena faktor logistik dan rantai pasok? Dari perspektif gizi, tidak ada bukti bahwa protein ayam lebih unggul dibandingkan ikan. Keduanya merupakan protein berkualitas tinggi dengan asam amino esensial lengkap. Bahkan, ikan memiliki keunggulan berupa kandungan omega-3 (EPA dan DHA) yang penting bagi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Dalam konteks stunting yang masih menjadi persoalan di NTT (sekitar 16,9% pada 2024), peran nutrisi ini sangat signifikan.

Oplus_16908288

Dominasi ayam lebih tepat dijelaskan melalui aspek operasional. Dari sisi ketersediaan, ayam unggul karena didukung industri peternakan yang terintegrasi dan stabil sepanjang tahun. Sebaliknya, ikan sangat dipengaruhi musim dan cuaca, sehingga produksinya fluktuatif dan sulit diprediksi untuk kebutuhan rutin seperti MBG. Dari aspek kualitas, ayam beku menawarkan standar yang konsisten berkat dukungan rantai dingin yang relatif mapan. Ikan, sebagai komoditas yang mudah rusak, sangat bergantung pada sistem pendinginan. Tanpa cold chain yang memadai, risiko penurunan mutu hingga pembusukan menjadi tinggi. Dari sisi kontinuitas, produksi ayam dapat direncanakan melalui sistem budidaya, sementara perikanan tangkap bersifat tidak pasti. Pada musim paceklik, pasokan ikan menurun drastis sehingga sulit menjamin suplai bagi dapur MBG.

Kemudahan penanganan juga menjadi faktor penting antara daging ayam dan ikan. Ayam lebih mudah diolah, distandarkan porsinya, dan diterima anak-anak. Ikan menghadapi tantangan seperti duri (tulang), variasi jenis, serta bau amis yang dapat memengaruhi preferensi konsumsi. Fakta lapangan menunjukkan menu MBG di Kupang pada tahap awal didominasi ayam dan cepat dihabiskan siswa, menandakan faktor penerimaan juga menentukan. Meski demikian, dominasi ayam membuka ruang kritik terkait optimalisasi potensi lokal. Pemerintah daerah sebenarnya mendorong penggunaan pangan lokal untuk memperkuat ekonomi daerah. Namun, integrasi sektor perikanan dalam MBG masih lemah, terutama karena keterbatasan infrastruktur pascapanen seperti cold storage, pabrik es, dan distribusi berpendingin. Tanpa dukungan ini, ikan sulit bersaing dalam pengadaan skala besar.

Selain itu, sektor perikanan didominasi nelayan kecil yang terfragmentasi, berbeda dengan industri ayam yang terintegrasi. Akibatnya, kemampuan memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar, kualitas seragam, dan distribusi tepat waktu menjadi terbatas. Dukungan pemerintah terhadap nelayan, khususnya dalam pengawetan ikan, masih belum terbangun secara sistematis.

Upaya inovatif dapat dimulai dari tingkat komunitas. Nelayan dapat difasilitasi menggunakan cool box, es higienis, serta pendingin tenaga surya skala kecil. Praktik penanganan sederhana seperti icing on board dapat memperpanjang kesegaran ikan. Di darat, koperasi atau BUMDes dapat mengelola cold storage komunal dan produksi es untuk menekan kehilangan hasil tangkapan. Di sisi lain, inovasi produk juga penting. Pengolahan ikan menjadi fillet tanpa duri (tulang), ikan giling, nugget, atau bakso ikan dapat meningkatkan daya simpan dan kemudahan pengolahan di dapur MBG. Standardisasi produk, kemasan vakum, dan kemitraan antara nelayan dan SPPG melalui kontrak pasokan akan menciptakan kepastian pasar. Edukasi konsumsi ikan kepada siswa juga perlu diperkuat agar penerimaan meningkat.

Dominasi ayam dalam MBG bukanlah pilihan final, melainkan konsekuensi dari keterbatasan sistem. Diperlukan transformasi kebijakan yang terarah melalui penguatan rantai dingin, kelembagaan nelayan, dan pengembangan produk ikan siap konsumsi. Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari kemampuan mengintegrasikan potensi lokal. Dalam konteks NTT, pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kekayaan laut akan tetap terabaikan, atau menjadi fondasi utama dalam membangun generasi sehat dan cerdas melalui MBG berbasis ikan?   ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *