Guru SD di Lembata Belajar Mendekatkan Matematika dengan Dunia Anak Melalui Model GEMBIRA LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Pembelajaran matematika di kelas awal sekolah dasar tidak cukup hanya mengandalkan angka, simbol, dan latihan soal. Anak membutuhkan pengalaman belajar yang dekat dengan dunia mereka, yakni bermain, bergerak, mencoba, mengamati, dan menemukan. Guru SD di Lembata Belajar Mendekatkan Matematika dengan Dunia Anak Melalui Model GEMBIRA Pendekatan itulah yang menjadi fokus Workshop Model Pembelajaran Matematika GEMBIRA untuk Fase A se-Kabupaten Lembata yang digelar di Wisma Don Bosco, Lewoleba, Kabupaten Lembata, 11 September 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 161 guru dari 161 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Lembata. Workshop diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang aktif, menyenangkan, dan bermakna sekaligus membangun fondasi numerasi anak sejak kelas awal. Bagi peserta didik Fase A, kemampuan mengenal bilangan, memahami pola, membandingkan, mengukur, dan memecahkan persoalan sederhana merupakan bagian penting dari fondasi berpikir. Karena itu, konsep matematika perlu diperkenalkan melalui pengalaman yang memungkinkan anak memahami bukan hanya hasil, tetapi juga proses dan alasan di balik sebuah jawaban. Guru Mengalami Langsung Workshop dilaksanakan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 8–9 September dengan 50 peserta, gelombang kedua pada 10–11 September dengan 50 peserta, dan gelombang ketiga pada 14–15 September dengan 61 peserta. Guru SD di Lembata Belajar Mendekatkan Matematika dengan Dunia Anak Melalui Model GEMBIRA Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata yang diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Suhartin Bungalaleng, dan ditutup oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Wenseslaus Ose. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Guru Jemy Leumara bertindak sebagai fasilitator daerah sekaligus pemateri. Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian konsep. Para guru justru ditempatkan sebagai peserta didik untuk mengalami langsung berbagai aktivitas yang dirancang dalam Model Pembelajaran Matematika GEMBIRA. Mereka mengikuti permainan matematika, simulasi, tantangan, kerja kelompok, serta berbagai aktivitas yang menggambarkan situasi pembelajaran di kelas Fase A. Setelah setiap aktivitas, peserta diajak merefleksikan pengalaman tersebut. Mereka membedah konsep matematika yang terkandung dalam permainan, jenis pertanyaan yang perlu diajukan guru, cara melibatkan seluruh peserta didik, hingga bagaimana memastikan anak benar-benar memahami konsep yang dipelajari. Pendekatan ini membuat guru tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai model GEMBIRA, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana model tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran. Bermain sebagai Jalan Memahami Konsep Dalam pembelajaran matematika Fase A, permainan bukan sekadar cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Aktivitas bermain dapat menjadi pintu masuk untuk membangun konsep matematika. Gerakan, misalnya, dapat digunakan untuk mengenalkan bilangan dan pola. Aktivitas kelompok dapat mendorong komunikasi dan penalaran. Sementara benda-benda sederhana di sekitar anak dapat membantu menghubungkan konsep yang abstrak dengan sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan dialami secara langsung. Karena itu, peserta workshop juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan kembali aktivitas pembelajaran sebagai guru. Mereka memperoleh umpan balik mengenai cara memberikan instruksi, mengelola aktivitas, mengajukan pertanyaan, serta mengembangkan permainan menjadi pengalaman belajar. Proses tersebut sekaligus mendorong guru melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang selama ini berlangsung di kelas: apakah anak sudah diberi ruang untuk berpikir, mencoba, dan menemukan, atau masih lebih banyak diarahkan untuk menghafal dan menyelesaikan soal. Dari 161 Guru ke 161 Sekolah Keterlibatan 161 guru dari 161 SD menjadi bagian penting dari workshop tersebut. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik serta kondisi masing-masing satuan pendidikan. Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pelatihan guru, tetapi membuka peluang agar pendekatan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual diterapkan di ruang-ruang kelas di Lembata. Dari Wisma Don Bosco, para guru membawa pengalaman belajar yang diperoleh melalui praktik, permainan, diskusi, refleksi, dan simulasi. Penguatan numerasi memang tidak dibangun dalam satu kegiatan. Kemampuan itu tumbuh melalui pengalaman belajar yang konsisten sejak kelas awal. Melalui Model Pembelajaran Matematika GEMBIRA, para guru diajak melihat matematika dari sudut pandang anak: bukan semata-mata angka dan soal, melainkan pengalaman untuk bermain, berpikir, mencoba, menemukan, dan akhirnya memahami. Di titik itulah matematika diharapkan menjadi lebih dekat dengan dunia anak. *** (Jemy Leumara) Post Views: 124 Navigasi pos Bimtek Literasi Informasi di Lembata Perkuat Gerakan Bersama Melawan Hoax