IA TIDAK HANYA TUNGGU DI AKHIR
(Ide inspiratif Homili 19/4/2026)
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM– Banyak kali saya (dan mungkin juga pembaca) beranggapan bahwa Tuhan hadir di tengah kesuksesan dan kemenangan. Ketika kita mengalami kesuksesan, kejelasan dalam hidup, dan terpenuhi apa yang kita cari, maka kita bersyukur karena Tuhan sungguh berada bersama kita.




Sebaliknya kegagalan sering kita maknai sebagai tanda Tuhan tidak hadir bersama kita. Kita malah mempersalahkan diri karena masih ada kekurangan yang mungkin membuat menunda terpenuhinya keinginan kita. Sebuah anggapan yang sudah menjadi keyakinan.
Tetapi apakah memang Tuhan hanya hadir di akhir sebuah usaha ketika kita mencapai kesuksesan dan kegembiraan? Apakah ketika kegagalan masih ada bersama kita menjadi tanda bahwa Tuhan tidak atau belum hadir?




Hari ini pertanyaan ini dijawab dalam pengalaman dua murid. Mereka mengalami apa yang sama seperti kita alami. Dua murid berjalan menjauh dari Yerusalem. Langkah mereka berat, hati mereka penuh kecewa. Harapan yang mereka gantungkan pada Yesus Kristus seolah runtuh bersama salib di Golgota.
Mereka tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga sedang “menjauh” secara batin—menjauh dari harapan, dari komunitas, bahkan mungkin dari iman mereka sendiri. Kita bisa membayangkan kekecewaan itu. Mereka tentu saja menyayangkan bukan perpisahan yang harus terjadi setelah kematian Yesus tetapi mungkin saja mereka menangisi pertemuan yang sudah terlanjur terjadi.




Namun di tengah perjalanan itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Yesus datang. Ia mendekat. Ia berjalan bersama mereka. Ironisnya, mereka tidak mengenali-Nya. Yesus juga masuk dan mencoba mengorek isi hati mereka, kekesalan mereka sehingga mereka makin bersemangat bercerita.
Di sini terjawab bahwa ketika kita tengah berada dalam proses untuk menjauh, tenggelam dalam kegagalan, Ia justru memilih berjalan bersama kita. Ia tidak menunggu di hasil akhir tetapi justru saat kita dalam kekalutan.
Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita cenderung mencari Tuhan dalam “hasil akhir.” Kita ingin doa yang langsung dijawab, masalah yang segera selesai, jalan hidup yang jelas tanpa kabut. Kita berharap Tuhan hadir dalam bentuk mukjizat yang nyata, cepat, dan sesuai keinginan kita.



Tetapi kisah Emaus mengajarkan sesuatu yang berbeda: Tuhan tidak hanya hadir di tujuan. Ia hadir dalam perjalanan. Masalahnya, tidak semua orang mampu bertahan dalam perjalanan itu—terutama ketika perjalanan dipenuhi kekecewaan.
Kekecewaan memiliki daya yang sangat kuat. Ia bisa mengaburkan pandangan, melemahkan harapan, bahkan membutakan mata iman. Dua murid itu sebenarnya tidak sendirian. Mereka sedang berjalan bersama Sang Kebangkitan. Namun karena hati mereka tertutup oleh luka dan harapan yang hancur, mereka tidak mampu melihat siapa yang ada di samping mereka.
Berapa kali kita mengalami hal yang sama? Kita berkata, “Tuhan, Engkau di mana?”
Padahal mungkin Tuhan sedang berjalan tepat di samping kita—dalam orang yang menguatkan kita, dalam firman yang kita dengar, dalam peristiwa kecil yang sebenarnya penuh makna.
Namun hati yang kecewa sering kali membuat kita tidak peka. Kekecewaan karena doa yang belum dijawab. Kekecewaan karena rencana yang gagal. Kekecewaan karena hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan.Semua itu perlahan-lahan menutup mata kita
Kisah inspiratif berikut bisa menjadi penutup dari renungan kita. Ada seseorang yang memiliki pengalaman iman berikut ini. Ia merasa sangat beruntung oleh aneka pencapaian dalam hidup. Meski hidup berkecukupan tetapi Ia merupakan pribadi yang sangat taat beribadah karena ia tahu bahwa semua anugerah itu datang dari Tuhan. Ia berkisah tentang sebuah mimpi yang penah ia alami.
Dikisahkan, ia berjalan bersama Tuhan di pinggir pantai. Suasana sangat akrab seakrab doa yang ia panjatkan dalam hidup. Karena berjalan di pinggir pantai berpasir maka ia menengok ke belakang, terukir 2 pasangan kaki, kakinya dan kaki Yesus. Ia menjadi sangat bergembira karena Tuhan berjalan bersama Dia dan terpateri dalam bukti 2 pasang bekas kaki.
Tetapi ia menjadi kecewa. Ada momen di mana dia mengalami masalah yang sangat berat. Ia berharap bahwa masih ada dua kaki yang terbentang seperti ketika ia bahagia. Yang ia temukan, justru hanya sepasang kaki yang menurutnya adalah kaki dari dirinya.
Ia lalu protes kepada Yesus: Tuhan, Engkau tidak adil. Ketika gembira, Engkau berjalan bersamaku. Tetapi apa yang terjadi ketika saya mengalami persoalan yang berat? Lihat, hanya ada satu pasang kaki saya. Di manakah Engkau Tuhan?
Tuhan terdiam dan beberapa saat kemudian menjawab: “Ya, hanya satu pasan kaki. Tetapi tahu kah kamu itu jejak kaki siapa? Itu jejak kaki saya. Ketika kamu bermasalah, saya menggendong kamu dan itu jejak kaki saya sementara kamu dalam pelukan Aku”. Tuhan tidak saja menunggu kita di akhir perjalanan tetapi menggendong kita dalam proses perjalanan ini. Amin
Robert Bala. Penulis buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Jogyakarta, Cetakan ke-2












