Tiga Pastor Pimpin Misa Penutupan Bulan Maria di Lewoleba



Ia mengatakan, di tengah tuntutan ekonomi, sosial, budaya dan politik, manusia perlu kembali mencari Tuhan sebagai sumber pengharapan sejati.Dalam homilinya, Rm. Goris juga mengutip puisi “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan kembali menemukan makna hidup dan kasih.
“Kembali pulang anakku sayang, jika kapalmu telah rapat ke tepi, kita akan bercerita tentang cinta dan hidupmu pagi hari,” kutipnya di hadapan umat.
Menurutnya, penutupan Bulan Maria bukan akhir dari devosi kepada Bunda Maria, melainkan ajakan untuk masuk dalam kesederhanaan hidup dan menghadirkan kasih di tengah sesama.
Ia menegaskan, Maria menghadapi berbagai persoalan hidup, namun tetap membawa pengharapan dan membagikan kasih kepada orang lain melalui kunjungannya kepada Elisabet.
“Berkat yang diterima harus dibagikan. Iman sejati hadir bersama orang lain dan diwujudkan melalui compassion atau belas kasih,” ujarnya.
Rm. Goris juga mengajak umat untuk tetap menjaga relasi intim dengan Tuhan di tengah perkembangan zaman.
Ia menyinggung pesan Paus Leo XIV tentang pentingnya mempertahankan nilai kemanusiaan agar manusia tidak terpesona secara berlebihan oleh perkembangan teknologi dan ambisi pribadi.
Selain itu, ia mengingatkan umat untuk membangun kembali budaya doa bersama dalam keluarga, memperkuat “literasi meja makan”, dan menghadirkan kasih bagi mereka yang mengalami keputusasaan.
“Setiap orang dipanggil untuk hadir di tengah kompleksitas persoalan hidup dengan membawa kasih, pengharapan dan kerendahan hati,” katanya.
Perayaan misa penutupan Bulan Maria itu ditutup dengan doa bersama dan nyanyian pujian kepada Bunda Maria yang diikuti seluruh umat dengan penuh sukacita. ***(AN-WN-01).
