Jadikan Perbuatan Baik Sebagai Kebiasaan, Karena Kebaikan Itu Diperoleh Melalui Kebiasaan Renungan tentang Iman,Pengetahuan, Tindakan, dan Warisan Kebaikan dalam Perjalanan Menuju Tuhan Oleh : Abdurrahman S. Sarabiti, S. Ag WARTA-NUSANTARA.COM— Ada sebuah nasihat sederhana namun mendalam: “Biasakanlah diri kalian untuk berbuat baik, karena kebaikan itu diperoleh melalui pembiasaan.” Nasihat yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud (semoga Allah meridlainya) ini mengajarkan kita bahwa kebaikan bukanlah sekadar pengetahuan intelektual, kekaguman sesaat, atau tindakan yang dilakukan sesekali saja. Sebaliknya, kebaikan harus dipraktikkan, diulang-ulang, dan dipupuk hingga menjadi kebiasaan yang mengakar kuat, hidup dan berdenyut, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri dan karakter seseorang. Bupati Lembata, Kanis Tuaq dan Wakil Bupati, Muhamad Nasir mengucapkan Dirgahayu HUT RI Ke-81 Pada akhirnya, seseorang tidak dikenang semata-mata karena gagasan, harta benda, atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan karena dampak yang ia tinggalkan: amal kebaikan yang ia lakukan, manfaat yang ia berikan, serta hati yang ia sentuh dan pengaruhi. Filsuf Ernest Bloch pernah memandang manusia bukan sekadar sebagai data statis, melainkan sebagai sejarah dan peristiwa; sebab manusia adalah makhluk yang menjadi “sesuatu” melalui perjalanan hidupnya. Dengan demikian, pertanyaan penting dalam hidup bukan hanya “Siapakah saya?”, melainkan juga: “Jejak baik apa yang telah saya tinggalkan dalam perjalanan hidup saya?” Hidup adalah perjalanan untuk pulang ke rumah. Kehidupan di dunia ini adalah sebuah perjalanan; Kita berasal dari Tuhan, hidup atas izin-Nya, menerima segalanya dari-Nya, dan pada akhirnya kembali kepada-Nya. “Sesungguhnya kita adalah milik Tuhan, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali.” Dalam perjalanan panjang ini, seseorang memerlukan bekal. Harta memang penting, namun itu bukanlah bekal yang paling utama. Seseorang mungkin meraih kedudukan tinggi, tetapi status itu tidak akan terbawa hingga ke liang lahat. Ketenaran mungkin memberikan seseorang posisi terpandang di mata sesama, namun hal itu tidak selalu menjamin penerimaan di hadapan Sang Pencipta. Bekal yang paling vital adalah iman. Sebab iman memberikan kita kompas dan arah saat hidup kehilangan jalan; ia berfungsi sebagai penunjuk arah batin yang mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar pengejaran hal-hal duniawi, melainkan persiapan untuk kembali menuju kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, ketika iman bersemayam di dalam hati, ia tidak boleh berhenti sekadar sebagai keyakinan semata, melainkan Iman harus mewujud dalam tindakan nyata. Iman melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai melahirkan perilaku. Perilaku yang berulang melahirkan kebiasaan. Kebiasaan yang terus dipelihara melahirkan karakter. Dan karakter itulah yang pada akhirnya membentuk arah perjalanan hidup seseorang. Di sinilah kita memahami mengapa menumbuhkan kebaikan itu begitu penting. Iman yang Hidup Akan Melahirkan Kebaikan Iman bukan sekadar pengakuan lisan. Iman harus memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan, memperlakukan orang lain, menghadapi ujian, menggunakan kekuasaan, menjalankan pekerjaan, dan mengambil keputusan. Abul A’la Al-Maududi, dalam bukunya Understanding Islam, menjelaskan beberapa konsekuensi penting dari iman, di antaranya hilangnya pandangan hidup yang sempit, tumbuhnya sikap adil, dan lahirnya semangat pengabdian. Iman yang sejati memampukan seseorang untuk tidak lagi memandang dunia semata-mata dari sudut pandang kepentingan pribadi. Mereka belajar melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas. Saat diberi amanah tugas, mereka tidak bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?” melainkan mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?” Saat memiliki kekuasaan, mereka tidak menggunakannya sebagai alat penindasan, melainkan sebagai sarana untuk melayani. Saat memiliki ilmu, ia tidak menggunakannya untuk merasa lebih unggul, melainkan menjadikannya jalan menuju pencerahan. Saat menerima rezeki, ia tidak hanya menghitung apa yang dimilikinya, tetapi juga memikirkan siapa yang bisa ia bantu. Inilah yang disebut iman yang hidup. Rasulullah (shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya) mengingatkan kita akan kualitas iman yang menghadirkan kesadaran akan pengawasan Allah: “Iman yang paling utama adalah engkau menyadari bahwa Allah bersamamu di mana pun engkau berada.” Kesadaran seperti inilah yang membuat 7seseorang tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada orang yang melihat. Ia tetap jujur saat memiliki kesempatan untuk berbohong. Ia tetap dapat dipercaya saat memiliki kesempatan untuk berkhianat. Ia tetap rendah hati saat memiliki alasan untuk menyombongkan diri. Mengapa demikian? Karena ia merasa bahwa Allah melihatnya. Ilmu adalah lentera dalam perjalanan. Namun, iman membutuhkan ilmu. Bayangkan seorang musafir yang bersemangat untuk memulai perjalanan, namun tidak yakin akan arah tujuannya. Semangatnya mungkin besar, tetapi tanpa pengetahuan mengenai rutenya, ia bisa tersesat. Demikian pula halnya dengan perjalanan hidup. Kita membutuhkan ilmu untuk membedakan jalan yang benar dari jalan yang salah; apa yang diperbolehkan dari apa yang dilarang; serta apa yang mendatangkan manfaat dari apa yang membawa mudarat. Oleh karena itu, menambah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah merupakan bagian penting dalam mempersiapkan diri untuk perjalanan hidup ini. Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” (Riwayat Muslim) Ilmu adalah cahaya Lentera. Ilmu membantu kita menemukan jalan yang tepat. Ilmu menjaga kita agar tidak mudah tertipu oleh gemerlap dan pesona duniawi. Ilmu mengajarkan kita bahwa tidak segala sesuatu yang tampak indah patut dikejar, dan tidak segala sesuatu yang tampak sulit harus dihindari. Namun, ilmu juga harus melahirkan amal saleh. Sebab, ilmu tanpa amal saleh ibarat lampu yang menyala namun tidak digunakan untuk menerangi langkah perjalanan. Amal Saleh: Bekal yang Sesungguh nya Kita Bawa Pada akhirnya, perjalanan hidup akan membawa kita pada satu titik yang tak terelakkan: perjumpaan dengan Allah. Saat itu tiba, banyak hal yang selama ini kita banggakan akan kehilangan maknanya. Harta tidak lagi menjadi sesuatu untuk disombongkan. Jabatan tidak lagi menjadi sesuatu untuk dipamerkan. Pangkat tidak lagi menjadi sandaran. Yang akan menjadi penentu adalah apa yang kita bawa menghadap-Nya. Allah mengingatkan kita: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan apa pun, sekecil apa pun itu. Senyuman yang tulus. Kata-kata yang menenangkan. Memberi jalan bagi orang lain. Memaafkan kesalahan. Membantu orang yang sedang kesulitan. Mengajar dengan tulus. Mendengarkan keluh kesah orang lain. Menjaga amanah. Bahkan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu orang lain di jalan. Bisa jadi, amal yang kita anggap kecil justru itulah yang mendatangkan rahmat Allah. Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan diterima. Maka, jangan terlalu sibuk menilai seberapa besar suatu amal; sibuklah memastikan ketulusannya. Amal Membutuhkan Dua Sayap: Ketulusan dan Mengikuti Petunjuk. Amal kebaikan tidak cukup hanya dilakukan dalam jumlah banyak; amal tersebut juga harus benar. Amal perbuatan menuntut adanya ketulusan. Tanpa ketulusan, sebuah amal bisa kehilangan nilainya di hadapan Allah. Allah berfirman: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” Namun, ketulusan saja tidaklah cukup. Amal perbuatan juga harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, amal saleh membutuhkan dua sayap: ketulusan dan ittiba’ (mengikuti teladan Nabi). Ketulusan menjaga hati dari riya’ (sikap pamer). Ittiba’ menjaga amal agar tidak menyimpang dari jalan yang benar. Bayangkan seorang musafir yang membawa tas sangat berat, namun isinya hanyalah batu-batu tak berguna. Ia bersusah payah memikul beban itu, tetapi beban tersebut tidak membawanya sampai ke tujuan. Demikian pula halnya dengan kehidupan. Ada orang yang sangat sibuk, namun belum tentu produktif dalam berbuat kebaikan. Ada orang yang bekerja keras, namun belum tentu menuai berkah yang melimpah. Ada orang yang terlibat dalam banyak aktivitas, namun belum tentu semakin mendekat kepada Allah. Maka, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kesibukan kita mendekatkan diri kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya. Kesabaran: Bekal untuk Perjalanan Panjang Perjalanan menuju Allah tidaklah selalu mudah. Ada rasa sakit. Ada kehilangan. Ada kegagalan. Ada kekecewaan. Ada fitnah. Ada penghinaan. Ada impian yang tak terwujud. Ada orang-orang tercinta yang harus pergi. Ada doa-doa yang seolah lama sekali dikabulkan. Semua ini menuntut kesabaran. Rasulullah SAW bersabda: As-safaru qit’atun min al-‘adhab “Perjalanan adalah bagian dari kesulitan.” (Hadis Muttafaq ‘alaih) Perjalanan hidup pun demikian adanya. Ia menuntut energi, keteguhan hati, dan kesabaran. Namun, justru dalam perjalanan inilah kualitas iman seseorang diuji. Mereka yang hanya mampu berbuat baik saat hidup terasa mudah, belum tentu telah benar-benar teruji. Akan tetapi, mereka yang tetap mampu berbuat baik meski sedang terluka, tetap mampu memaafkan meski disakiti, tetap mampu bersyukur saat diuji, dan tetap mampu menaruh harapan kepada Allah saat jalan terasa gelap—merekalah orang-orang yang sedang ditempa menjadi pribadi yang tangguh. Perbuatan baik yang dilakukan berulang kali akan membentuk karakter. Jadi, mari kita kembali pada pesan sederhana itu: Jadikan berbuat baik sebagai sebuah kebiasaan. Jangan menunggu hingga menjadi sosok terkemuka untuk berbuat baik. Jangan menunggu hingga kaya raya untuk berbagi. Jangan menunggu hingga memegang jabatan untuk melayani. Jangan menunggu hingga sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Jangan menunggu hingga tua untuk bertobat. Jangan menunggu hingga memiliki banyak waktu luang untuk bermanfaat bagi orang lain. Mulailah sekarang. Sebab, satu perbuatan baik yang dilakukan sekali saja mungkin hanyalah sebuah peristiwa sesaat. Namun, perbuatan baik yang dilakukan secara konsisten akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dipupuk akan membentuk karakter. Karakter yang baik melahirkan kehidupan yang baik pula. Dan kehidupan yang dipenuhi kebaikan akan meninggalkan warisan yang bermakna. Mungkin inilah salah satu cara seseorang “memperkenalkan dirinya” kepada dunia: bukan melalui deretan kata-kata tentang dirinya sendiri, melainkan melalui tindakan kebaikan yang terus dikenang jauh setelah ia tiada. Sebelum Ajal Menuliskan Kalimat Terakhirnya Ada satu hal yang sering kita lupakan: kita tidak pernah tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Hari ini, kita masih bisa tersenyum. Kita masih bisa bekerja. Kita masih bisa beribadah. Kita masih bisa meminta maaf. Kita masih bisa memperbaiki kesalahan kita. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa kita akan memiliki kesempatan yang sama esok hari? Oleh karena itu, biasakanlah diri untuk berbuat baik. Sebab kita tidak tahu kapan Malaikat Maut akan datang menjemput kita. Kita tidak tahu dalam keadaan seperti apa kata-kata terakhir hidup kita akan tercatat. Maka, jangan biarkan hari-hari terakhir kita dipenuhi oleh kebiasaan buruk yang telah kita pelihara selama bertahun-tahun. Sebaliknya, mari kita latih diri agar saat tiba waktunya, kita berada dalam keadaan yang diridai Allah. Jika kita membiasakan diri bersedekah hari ini, semoga kita dijemput saat sedang memberi. Jika kita membiasakan diri membaca Al-Qur’an hari ini, semoga kita dijemput saat sedang dekat dengan Al-Qur’an. Jika kita membiasakan diri membantu sesama hari ini, semoga kita dijemput saat sedang menebar manfaat bagi orang lain. Jika kita membiasakan diri menjaga lisan hari ini, semoga kata-kata terakhir kita adalah kata-kata yang baik. Dan jika kita membiasakan diri memohon ampunan Allah hari ini, semoga kita kembali kepada-Nya dengan hati yang suci. Sebab kematian bukan sekadar mengakhiri hidup. Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan setelahnya. Maka, sebelum perjalanan ini benar-benar berakhir, mari kita bertanya pada diri sendiri: Kebiasaan apa yang sedang kita bangun? Karena bisa jadi, kebiasaan yang kita bentuk hari ini akan menjadi keadaan yang menyertai kita saat menghadap Allah. Jadi, selagi masih ada waktu, biasakanlah berbuat baik. Biasakan hati untuk senantiasa mengingat Allah. Biasakan lisan untuk selalu berkata benar. Biasakan tangan untuk menolong sesama. Biasakan kaki untuk melangkah menuju kebaikan. Biasakan ilmu untuk membuahkan amal nyata. Biasakan amal untuk dilakukan dengan penuh ketulusan. Biasakan diri untuk bersabar saat diuji. Biasakan diri untuk bersyukur saat diberi nikmat. Biasakan diri untuk memaafkan saat dizalimi. Dan bangunlah kehidupan yang dipandu oleh satu kesadaran ini: Allah melihat kita di mana pun kita berada. Semoga kita menjalani sisa usia yang diamanahkan Allah kepada kita bukan sekadar sebagai individu yang berumur panjang, melainkan sebagai sosok yang meninggalkan warisan kebaikan yang abadi. Tidak sekadar dikenang karena pernah ada, tetapi karena telah memberi makna bagi kehidupan orang lain. Meninggalkan bukan hanya sekadar nama, melainkan amal saleh. Meninggalkan bukan hanya kenangan, melainkan manfaat nyata. Sebab pada akhirnya, kita semua sedang dalam perjalanan untuk kembali pulang. Dan pertanyaannya bukan lagi seberapa jauh kita telah melangkah, melainkan: bekal apa yang kita bawa untuk pertemuan dengan Allah? Semoga iman menjadi kompas kita. Ilmu menjadi lentera kita. Amal saleh menjadi bekal kita. Keikhlasan menjadi jiwa dari setiap tindakan kita. Kesabaran menjadi kekuatan kita. Dan kebaikan menjadi jejak yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan. Tuhan memberkati Anda, Tuhan memberkati Anda, Tuhan memberkati Anda wa khaira ayyaaminaa yauma nalqooka Ya Allah, jadikanlah amalan kami yang terbaik sebagai amalan di akhir hidup kami, dan jadikanlah hari-hari kami yang terbaik pada hari ketika kami bertemu dengan-Mu. Aamiin yaa rabbal alamiin Wallāhu a’lam bish-shawāb. Tentang Penulis: Abdurahman S. Sarabiti, S.Ag, ASN Kementerian Agama Kab. Memperlambat. Berada di Jurusan Kepala Madrasah Aliyah Kedang Negeri (MAN 1 Lembata) sekarang. Saat ini Pengawas Madrasah, Pemerhati Pendidikan Madrasah. Tinggal di Kalikur Kedang Lembata Post Views: 22 Navigasi pos Membangun Masa Depan Peradaban Lamakera