Ketika Validasi Menjadi Tujuan; Bantuan Hidup (Jaminan Hidup) Tereliminasi Oleh : Julkasi Ady Sahala Matondang (Pengamat Pendidikan) & Andi Nova M.Pd (Akademisi) WARTA-NUSANTARA.COM— Dalam berbagai program bantuan sosial, validasi data merupakan langkah penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Namun, ketika validasi dijadikan tujuan akhir, bukan sebagai sarana, maka yang sering terjadi adalah hak masyarakat miskin dan rentan justru terabaikan. 1. Hakikat Validasi adalah Alat, Bukan Tujuan Validasi dan verifikasi data seharusnya bertujuan: Memastikan penerima bantuan benar-benar layak. Memperbaiki kesalahan data. Menjamin keadilan dan akuntabilitas program. Akan tetapi, apabila proses validasi terlalu birokratis, berlarut-larut, atau tidak mempertimbangkan kondisi riil masyarakat, maka validasi berubah menjadi penghambat penyaluran bantuan. 2. Dampak Ketika Validasi Menjadi Tujuan Akibat yang sering muncul antara lain: Masyarakat miskin kehilangan akses terhadap bantuan hidup. Lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan tereliminasi karena kendala administrasi. Muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan penyelenggara program. Bantuan yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial gagal menjalankan fungsinya. 3. Jaminan Hidup adalah Amanah Konstitusi Negara berkewajiban melindungi dan memelihara fakir miskin serta masyarakat rentan. Oleh karena itu: “Validasi harus melayani manusia, bukan manusia yang dikorbankan demi validasi.” Kebijakan sosial yang baik harus mengutamakan: Kemanusiaan, Keadilan sosial, Kemudahan akses, Dan keberpihakan kepada kelompok yang paling membutuhkan. 4. Solusi yang Dapat Ditempuh Melakukan validasi secara berkala tanpa menghentikan bantuan secara sepihak. Menyediakan mekanisme pengaduan dan sanggah yang mudah diakses. Melibatkan pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat dalam verifikasi lapangan. Mengedepankan pendekatan humanis, bukan semata-mata administratif. Kesimpulan Validasi adalah instrumen untuk mencapai keadilan sosial, bukan alasan untuk menghilangkan hak hidup masyarakat rentan. Ketika validasi dijadikan tujuan, maka substansi perlindungan sosial hilang, dan bantuan hidup yang seharusnya menyelamatkan justru tereliminasi. “Jangan jadikan validasi sebagai penghalang kemanusiaan. Data memang harus akurat, tetapi keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama.” Julkasi Ady Sahala Matondang , Penulis adalah Pengamat Pendidikan) & Andi Nova M.Pd (Akademisi Post Views: 37 Navigasi pos Harta Karun Hijau dari Pesisir Lembata: Malapari Menunggu Bibit, Bukti, dan Pasar