Lembata: Kota Kasih di Balik Kegelisahan Yang Sunyi
Oleh: Frater Alex De’a
Pergumulan Di Balik Kesunyian Tembok Ritapiret Untuk Lembata Yang Gelisah Dalam Sunyi.
WARTA-NUSANTARA.COM– Permenungan ini ditarik dari keheningan di balik tembok keramat Ritapiret-Sikka-Maumere. Di sana jiwa dirawat dalam Dia melalui setiap doa yang tidak mengenal jeda. Tetapi, kali ini bukan tentang kehidupan yang ditempa di sana, melainkan tentang kisah sepekan penuh cinta dan kasih dalam kunjungan hangat menuju Pulau Lembata.
Lembata adalah pulau di seberang kota Larantuka. Di sana kisah kasih dirayakan dengan hati dan tangan terbuka, untuk menyambut siapa saja yang datang dan pergi. Inilah yang saya alami dalam perjumpaan yang penuh cinta itu. Pesisiran Lembata ada kehidupan, tertanda dengan banyaknya cita dan harap yang tak pernah mati dalam hati setiap umat di Lembata. Meski kadang mereka harus berkelahi dengan logika sendiri ‘bagaimana seharusnya bertahan dalam banyak tantangan yang ada di pulau kecil itu’.
Bagi saya, Lembata adalah kota yang tampak seperti doa yang dilukis di cakrawala. Lautnya membentang luas, biru yang tenang sekaligus dalam, memeluk garis pantai yang panjang dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Di setiap senja, matahari tenggelam perlahan, seolah enggan meninggalkan bukit-bukit yang berdiri anggun. Cahaya keemasan jatuh di wajah-wajah rumah sederhana, di jalan-jalan kecil yang menyimpan cerita, dan di mata orang-orang yang telah lama bersahabat dengan kerasnya hidup.
Keindahan di sini bukan sekadar lanskap; ia adalah cara hidup. Orang-orang Lembata menyapa dengan hangat, dengan senyum yang tidak dibuat-buat. Ada keakraban yang tumbuh dari kebiasaan berbagi; ikan hasil tangkapan, cerita keseharian, bahkan beban hidup.
Di Lembata ini, persaudaraan bukan konsep abstrak, melainkan realitas yang dirawat dalam perjumpaan sehari-hari. Di gereja-gereja, suara nyanyian umat mengalun, mengisi ruang dengan iman yang hidup. Religiusitas tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam sikap saling menolong, dalam kesediaan untuk hadir bagi sesama.
Namun di balik semua itu, Lembata juga menyimpan kegelisahan yang sunyi. Keindahan alam sering kali menjadi tirai tipis yang menutupi realitas yang lebih getir. Ketidakstabilan ekonomi merayap pelan, seperti ombak yang terus mengikis pantai tanpa suara. Banyak keluarga hidup dalam keterbatasan, bergantung pada alam yang tak selalu ramah. Hasil laut tak selalu cukup, tanah tak selalu memberi, dan peluang sering kali terasa jauh bagi para pengusaha mikro karena ketegangan struktural. Dalam situasi ini, harapan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang otomatis dimiliki.
Tekanan politik menambah lapisan kompleksitas. Janji-janji datang silih berganti, terutama saat momentum kekuasaan mendekat, tetapi sering kali meninggalkan jejak kekecewaan. Masyarakat yang hangat dan bersahaja itu, dalam diam, memikul beban ketidakpastian. Mereka tetap tersenyum, tetap menjaga harmoni, tetapi di dalamnya tersimpan tanya: sampai kapan hidup seperti ini harus dijalani?
Di sinilah paradoks Lembata menjadi nyata. Ia indah, tetapi tidak sepenuhnya sejahtera. Ia religius, tetapi tidak bebas dari kecemasan. Ia harmonis, tetapi rapuh di hadapan struktur yang lebih besar dari dirinya. Keaslian hidup masyarakatnya justru tampak dalam ketegangan ini; antara syukur atas apa yang ada dan kegelisahan akan apa yang belum tercapai.
Lembata, dengan segala pesonanya, mengajarkan saya bahwa keindahan tidak selalu identik dengan kemapanan. Ia adalah ruang di mana manusia belajar bertahan, berharap, dan tetap setia pada nilai-nilai kemanusiaan, bahkan ketika realitas tidak berpihak. Di sana, di antara laut, bukit, dan senja, manusia tidak hanya hidup; mereka berjuang untuk tetap menjadi manusia. Meskipun di tengah gelombang ketidakpastian itu, masyarakat Lembata tidak berdiri tanpa arah. Mereka menambatkan harapan pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar struktur sosial atau janji politik; mereka menambatkannya pada Gereja. Bagi banyak orang, Gereja bukan hanya tempat beribadah, melainkan ruang perlindungan batin, tempat di mana kegelisahan menemukan bahasa, dan harapan menemukan bentuknya.
Sosok uskup dan para imam hadir bukan sekadar sebagai pemimpin ritual, tetapi sebagai wajah konkret dari pengharapan itu sendiri. Dalam diri mereka, masyarakat melihat kemungkinan akan suara yang membela, tangan yang merangkul, dan arah yang menuntun. Ada kepercayaan yang diam-diam tumbuh: bahwa ketika dunia di luar terasa goyah, Gereja masih dapat berdiri sebagai batu karang; meski tidak selalu mampu mengubah keadaan secara instan, tetapi setidaknya mampu memberi makna pada penderitaan yang dijalani.
Dari sinilah lahir sebuah komitmen yang khas: dukungan terhadap pendidikan calon imam di seminari.
Bagi masyarakat Lembata, mengutus anak-anak mereka ke seminari bukan sekadar pilihan religius, tetapi juga tindakan eksistensial; sebuah investasi harapan. Mereka percaya bahwa dari rahim pendidikan itu akan lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya saleh, tetapi juga peka terhadap luka sosial, mampu membaca tanda-tanda zaman, dan berani bersuara di tengah ketidakadilan.
Namun, di titik ini refleksi kritis menjadi penting. Harapan yang begitu besar kepada Gereja dan para pelayannya dapat menjadi kekuatan, tetapi juga berpotensi menjadi beban yang tidak disadari. Ada risiko bahwa Gereja diposisikan sebagai satu-satunya penopang harapan, sementara struktur sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas justru luput dari tuntutan perubahan. Ketika semua harapan diarahkan ke altar, ada kemungkinan bahwa tanggung jawab kolektif untuk membangun kesejahteraan bersama menjadi tereduksi.
Demikian pula dengan seminari. Ia bukan sekadar tempat pembentukan rohani, tetapi juga ruang yang sarat dengan ekspektasi sosial. Para calon imam, sejak awal, sudah dibebani dengan harapan untuk menjadi “jawaban” atas berbagai persoalan umat. Pertanyaannya kemudian: apakah formasi yang mereka jalani sungguh-sungguh membentuk kebebasan batin dan keberanian profetis, atau justru tanpa sadar menyiapkan mereka untuk sekadar menjaga stabilitas yang ada?
Di tengah keindahan Lembata yang memukau dan realitasnya yang rapuh, Gereja berdiri di persimpangan: antara menjadi pelipur lara atau menjadi suara kritis; antara menjaga harmoni atau menggugat ketidakadilan. Dan masyarakat, dengan segala kesederhanaannya, terus berharap; bukan hanya pada langit yang mereka doakan, tetapi juga pada manusia-manusia yang mereka bentuk dan utus.
Maka Lembata tidak hanya berbicara tentang laut, senja, dan bukit yang indah. Ia juga berbicara tentang iman yang dipikul bersama, tentang harapan yang dititipkan pada institusi, dan tentang pergulatan diam antara menerima kenyataan dan mengubahnya. Di sana, di antara doa dan realitas, manusia terus mencari jalan untuk tetap setia bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada tanggung jawab kemanusiaannya sendiri.
Pada akhirnya, Lembata tidak hanya tinggal sebagai hamparan laut yang tenang atau lukisan senja yang memikat mata. Ia adalah ruang batin yang hidup; tempat di mana kasih dirawat dalam kesederhanaan, tetapi juga diuji dalam diam. Di setiap sapaan hangat, di setiap perayaan iman, di setiap langkah kaki menuju gereja yang sederhana, ada cinta yang nyata: cinta yang tidak banyak bicara, tetapi setia bertahan. Namun kasih di Lembata bukan kasih yang lahir dari kelimpahan. Ia justru tumbuh dari keterbatasan, dari ketidakpastian ekonomi, dari tekanan yang tak selalu tampak di permukaan. Ia adalah kasih yang belajar diam ketika keadaan tak berpihak, kasih yang tetap memberi meski tak memiliki banyak, kasih yang tetap percaya meski berkali-kali dikecewakan. Di sanalah kegelisahan itu bersemayam; sunyi, nyaris tak terdengar, tetapi nyata menggerakkan batin banyak orang.
Kegelisahan itu tidak selalu berteriak. Ia hadir dalam tanya yang disimpan rapat: tentang masa depan, tentang keadilan, tentang arah hidup yang belum pasti. Ia hidup berdampingan dengan doa-doa yang dinaikkan, dengan harapan yang dititipkan pada Gereja, pada para gembala, dan pada generasi yang sedang dipersiapkan di seminari. Kegelisahan itu tidak menghancurkan, tetapi menguji: apakah kasih tetap mampu bertahan ketika harapan belum kunjung menjadi kenyataan?
Dan justru di titik itulah, Lembata menemukan maknanya yang paling dalam. Ia adalah kota kasih; bukan karena segala sesuatu berjalan baik, melainkan karena manusia di dalamnya memilih untuk tetap mengasihi di tengah segala yang tidak pasti. Ia adalah kota kasih karena persaudaraan tidak runtuh oleh tekanan, karena iman tidak padam oleh kekecewaan, karena harapan terus diperjuangkan meski seringkali tampak rapuh. Di balik kegelisahan yang sunyi itu, kasih tidak pernah benar-benar hilang. Ia berdenyut pelan, seperti ombak yang tak lelah menyentuh pantai. Ia mungkin tidak selalu terlihat gemilang, tetapi ia setia; menjadi alasan mengapa kehidupan tetap dijalani, mengapa harapan tetap disemai, dan mengapa manusia di Lembata tetap berdiri.
Di tengah seluruh denyut kasih yang hidup di Lembata, ada kisah lain yang tumbuh pelan, nyaris tak terdengar, tetapi menyala dalam hati mereka yang singgah: kisah panggilan. Para frater yang datang; dengan langkah muda yang masih mencari arah, dengan hati yang kadang ragu dan bertanya, tidak hanya menemukan sebuah tempat, tetapi mengalami sebuah perjumpaan.
Kami datang mungkin dengan idealisme yang masih mentah, dengan bayangan tentang pelayanan yang belum sepenuhnya diuji oleh realitas. Namun Lembata tidak menyambut mereka dengan teori, melainkan dengan hidup itu sendiri. Umat menerima mereka bukan sebagai tamu yang asing, tetapi sebagai anak yang pulang. Pintu-pintu rumah terbuka tanpa banyak tanya, makanan dibagikan tanpa perhitungan, dan senyum diberikan tanpa syarat. Dalam kesederhanaan itu, para frater melihat sesuatu yang tak selalu mereka temukan dalam buku: Injil yang hidup.
Ada sesuatu yang menguatkan secara diam-diam. Ketika seorang ibu menyuguhkan hidangan dari dapur yang sederhana, tetapi penuh ketulusan; ketika seorang bapak mengajak berbincang tentang hidup dengan mata yang jujur; ketika anak-anak menyapa dengan kegembiraan yang tulus; di sanalah panggilan itu disentuh kembali. Bukan sebagai konsep yang jauh, tetapi sebagai kenyataan yang berakar dalam relasi.
Lembata, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi ruang peneguhan. Di sana, para frater belajar bahwa menjadi imam bukan pertama-tama soal posisi, melainkan soal kehadiran. Mereka melihat bahwa umat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mengharapkan kedekatan. Bahwa yang dibutuhkan bukan hanya kata-kata, tetapi hati yang bersedia tinggal bersama; dalam suka dan duka, dalam terang dan kegelisahan. Namun pengalaman ini juga menyisakan pertanyaan yang jujur dan kritis: apakah peneguhan itu akan bertahan ketika mereka kembali ke realitas yang berbeda? Apakah cinta umat yang begitu tulus akan terus mereka kenang sebagai panggilan untuk melayani, atau perlahan memudar menjadi sekadar kenangan yang indah? Sebab panggilan tidak hanya diuji dalam kehangatan penerimaan, tetapi juga dalam kesetiaan menghadapi kenyataan yang tidak selalu bersahabat.
Meski demikian, Lembata telah menanamkan sesuatu yang tidak mudah hilang. Ia menorehkan jejak dalam hati para frater; bahwa di balik kegelisahan yang sunyi, ada umat yang tetap mencintai, tetap percaya, dan tetap berharap. Dan dari cinta itulah, panggilan menemukan nadanya yang paling jujur. Maka di kota kasih ini, tidak hanya umat yang berharap pada para calon imam, tetapi para frater pun diam-diam menemukan alasan untuk tetap setia. Sebab mereka telah melihat sendiri: kasih itu nyata, hidup, dan menunggu untuk dilayani. Dan ketika panggilan diteguhkan oleh cinta yang sederhana namun tulus, ia tidak lagi sekedar pilihan; ia menjadi jawaban atas hidup itu sendiri.
Maka Lembata adalah sebuah kesaksian: bahwa kasih yang sejati bukanlah kasih yang bebas dari luka, melainkan kasih yang tetap hidup di dalamnya. Sebuah kota yang mengajarkan bahwa dalam sunyi yang gelisah, manusia masih mampu memilih untuk mengasihi, dan di situlah, diam-diam mereka menemukan kekuatannya. Siapa pun yang datang dan singgah, akan dipastikan merasa betah, dan enggan untuk lekas berpamitan untuk pulang. Itulah Lembata, cinta yang selalu dirayakan tanpa tutur kata tetapi dengan aksi nyata, meski jiwa dalam denyut sunyinya selalu beradu dengan banyak luka. ***
