Penyuluh Agama Perkuat Misi Kemanusiaan dalam Pelayanan Holistik di RS. St. Damian Lewoleba Oleh Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil., M,Th WARTA-NUSANTARA.COM— Pelayanan kepada orang sakit adalah wujud paling nyata dari peradaban yang menghargai martabat manusia. Dalam terang iman Kristiani, pelayanan kesehatan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas medis yang berorientasi pada penyembuhan tubuh, tetapi sebagai karya kasih nyata yang menyentuh manusia secara utuh – tubuh, jiwa, sosial dan spiritual. Dalam konteks ini, para penyuluh agama hadir dan memberikan pelayanan di RS. St. Damian Lewoleba. Penyuluh Agama dalam Perspektif Kementerian Agama Kehadiran penyuluh agama dalam pelayanan publik memiliki dasar konstitusional dan yuridis yang kuat. Negara menjamin hak setiap warga negara untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah menurut keyakinannya sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28 E dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam konteks pelayanan kesehatan, hak memperoleh pelayanan kerohanian juga merupakan bagian dari hak pasien yang harus dihormati. Oleh karena itu, penyuluh agama hadir bukan sekadar memenuhi kebutuhan religius individu, tetapi juga menjalankan mandat negara untuk memastikan terpenuhinya hak-hak spiritual masyarakat dalam berbagai ruang pelayanan publik, termasuk rumah sakit. Dalam perspektif Kementerian Agama Republik Indonesia, penyuluh agama merupakan aparatur yang mengemban fungsi informatif. edukatif, konsultatif, advokatif, serta inspiratif. Melalui fungsi-fungsi tersebut penyuluh agama menjadi mitra strategis berbagai institusi dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, moderat, harmonis, dan berkeadaban. Di rumah sakit, seluruh fungsi tersebut menemukan bentuk konkretnya melalui pendampingan spiritual yang menyatu dengan pelayanan kemanusiaan. Peran tersebut menjadi semakin relevan ketika penyuluh agama hadir dan berkarya di rumah sakit St. Damian Lewoleba. Di rumah sakit ini, penyuluh hadir sebagai pendamping spiritual yang membantu pasien menemukan makna di balik penderitaan, menguatkan keluarga yang sedang menghadapi kecemasan, memberikan dukungan moral kepada tenaga kesehatan, serta membangun suasana pelayanan yang penuh kasih dan penghormatan terhadap martabat manusia. Oleh karena rumah sakit St. Damian adalah ruang publik yang dinikmati oleh masyarakat dari latar belakang agama dan budaya yang beragam, maka kehadiran penyuluh agama memperoleh relevansi yang semakin strategis sebagai agen moderasi beragama. Setiap pelayanan spiritual dilakukan secara inklusif, menghormati keyakinan setiap pasien, serta menjunjung tinggi nilai-nilai universal seperti kasih, empati, solidaritas, kejujuran, dan penghargaan terhadap kehidupan. Dengan demikian, kehadiran penyuluh agama tidak hanya memberikan pendampingan rohani bagi umat seiman, tetapi juga menjadi jembatan yang memperkokoh harmoni, menumbuhkan rasa saling percaya, serta menghadirkan wajah agama sebagai kekuatan yang mempersatukan, memulihkan, dan memanusiakan setiap pribadi tanpa membedakan latar belakangnya. RS. St. Damian Lewoleba: Ruang Kemanusiaan Rumah sakit St. Damian Lewoleba bukan hanya institusi pelayanan medis yang berorientasi pada penyembuhan penyakit. Sesuai visi dan misanya, ia juga merupakan ruang kemanusiaan tempat berbagai pengalaman eksistensial manusia menyata: ada harapan dan kecemasan, kehidupan dan kematian, iman dan keraguan, keterbatasan dan pengharapan. Di ruang inilah orang berhadapan dengan kerapuhan sebagai kenyataan paling mendasar dari keberadaannya. Penyakit bukan hanya mengganggu fungsi biologis tubuh, melainkan mengguncang keseluruhan eksistensi manusia. Dalam perspektif filsafat personalisme, manusia adalah pribadi yang utuh (persona integra), yaitu kesatuan tak terpisahkan antara tubuh, jiwa, akal budi, kehendak, kehidupan sosial, dan dimensi transendennya. Ketika tubuh mengalami sakit, sesungguhnya yang terluka bukan hanya organ-organ biologis, tetapi juga identitas diri, relasi sosial, keseimbangan psikologis, serta kehidupan spiritual seseorang. Maka ketika pelayanan kesehatan itu hanya berpusat pada dimensi klinis tidak akan cukup memadai untuk menjawab kompleksitas penderitaan manusia. Manusia membutuhkan pelayanan yang menyentuh keseluruhan dirinya sebagai pribadi yang utuh. Dalam kerangka inilah para suster Congregatio Imitationis Jesu (CIJ) – Pengikut Yesus untuk mengembangkan rumah sakit Katolik St. Damian Lewoleba sebagai ruang kemanusiaan tempat untuk menyembuhkan penyakit sekaligus ruang untuk menghadirkan kasih Allah bagi setiap orang tanpa memandang agama, suku, budaya, ataupun status sosial. Dasar Pelayanan RS St. Damian dan Penyuluh Agama Katolik Pandangan tentang manusia sebagai satu kesatuan utuh sejalan dengan antropologi kristiani yang menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Kata-kata dari Kej. 1:26–27 ini bukan sekadar ungkapan religius, melainkan fondasi ontologis martabat manusia. Karena itu, ia tidak bergantung pada kesehatan, kecerdasan, usia, kekayaan, maupun produktivitasnya. Ia bersumber dari Allah sendiri dan karena itu bersifat melekat (inheren), tidak dapat dicabut, serta harus dihormati dalam setiap keadaan. Maka pelayanan kepada orang sakit bukan hanya kewajiban sosial melainkan sebuah imperatif moral dan panggilan iman. Dalam pandangan Gereja Katolik, penyakit dan penderitaan merupakan salah satu pengalaman paling berat dalam kehidupan manusia karena memperlihatkan secara nyata keterbatasan, kefanaan, dan ketidakberdayaan manusia (KGK 1500–1501), namun Gereja juga menegaskan dimensi fundamental lainnya bahwa penderitaan bukanlah realitas tanpa makna. Dalam terang misteri Paska Kristus, penderitaan memperoleh dimensi penebusan. Melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, Kristus tidak menghapus seluruh penderitaan manusia, tetapi mengubah maknanya menjadi jalan menuju keselamatan dan persekutuan yang lebih mendalam dengan Allah (KGK 1505). Dalam Ensiklik Salvifici Doloris, Paus Yohanes Paupus II menegaskan, penderitaan dapat menjadi jalan menuju pemahaman iman yang lebih matang dan persekutuan kasih yang mendalam dengan Allah. Pemahaman inilah yang menjadi dasar spiritual bagi pelayanan kesehatan Katolik. Dalam seluruh karya penyembuhan-Nya, Yesus memperlihatkan bahwa keselamatan yang dibawa-Nya selalu bersifat integral. Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh yang sakit, tetapi juga memulihkan relasi manusia dengan Allah, membebaskan dari dosa, mengangkat kembali martabat mereka yang tersingkir, serta mengembalikan mereka ke dalam kehidupan sosial. Sebelum menyembuhkan orang lumpuh, Ia terlebih dahulu mengampuni dosanya (Mrk. 2:1–12). Kepada perempuan yang menderita pendarahan, Yesus tidak hanya memulihkan kesehatan fisiknya, tetapi juga mengembalikan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat (Mrk. 5:25–34). Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Luk. 10:25–37), Yesus menghadirkan paradigma pelayanan yang holistik: belas kasih diwujudkan melalui tindakan nyata yang memulihkan tubuh, menjamin keberlangsungan hidup, dan menghidupkan kembali harapan. Atas dasar inilah Gereja sejak awal memahami pelayanan kesehatan sebagai bagian integral dari misinya, menggabungkan pemberitaan kabar baik dengan bantuan dan perawatan orang sakit sebagaimana yang diisyaratkan Gereja dalam New Charter for Health Care Workers (2016). Karena itu, rumah sakit Katolik bukan sekadar pusat pelayanan medis, melainkan perpanjangan tangan belas kasih Kristus, Sang Tabib Ilahi. Semangat ini diteguhkan pula oleh dokumen Magisterium Gereja, seperti Gaudium et Spes (terj. 2021) dan Evangelium Vitae (terj. 2006) yang menempatkan pelayanan kesehatan sebagai wujud konkret penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas dengan mereka yang menderita, dan keberpihakan kepada kehidupan. Pelayanan kesehatan dipahami sebagai karya kasih yang memadukan kompetensi ilmiah dengan kebijaksanaan moral, profesionalisme dengan spiritualitas, serta tindakan medis dengan pendampingan pastoral. Dalam cara ini, pelayanan kesehatan hadir sebagai bentuk kesaksian iman Kristen dan panggilan suci sebagai pelayan kehidupan. Sebagai rumah sakit Katolik yang bertumbuh dari spiritualitas belas kasih Santo Damian dan semangat pelayanan Gereja, RS St. Damian Lewoleba dipanggil untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga manusiawi, berbelarasa, dan menghormati kesucian hidup. Dalam kerangka inilah kehadiran penyuluh agama memperoleh makna yang sangat strategis. Penyuluh tidak hanya menjalankan fungsi informatif, edukatif, dan konsultatif berkaitan dengan ajaran agama, tetapi juga menghadirkan dimensi spiritual yang menopang keseluruhan proses penyembuhan. Ia menjadi pendamping yang mendengarkan tanpa menghakimi, menguatkan tanpa memaksakan, menghibur tanpa memberikan harapan palsu, serta membantu pasien dan keluarganya menemukan makna penderitaan dalam terang iman. Kehadiran penyuluh mensintesisikan pelayanan negara dan misi Gereja, tanggung jawab profesional dan panggilan profetis, serta kasih insani dan kasih ilahi. Di Rumah yang diasuh oleh para suster Pengikut Yesus ini juga penyuluh agama dipanggil menjadi penjaga harapan (custos spei). Penyuluh hadir hadir sebagai saksi hidup kasih Allah yang bekerja melalui pelayanan kesehatan yang holistik. Di tengah kecemasan pasien, kesedihan keluarga, dan tekanan yang dihadapi tenaga kesehatan, penyuluh agama menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan iman, profesionalisme dengan belas kasih, serta pelayanan medis dengan pemulihan martabat manusia. Dengan demikian, pelayanan penyuluh agama tidak lagi dipandang sebagai pelengkap sistem kesehatan, melainkan sebagai bagian esensial dari misi kemanusiaan Gereja dan negara dalam menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat, penuh pengharapan, dan berakar pada kasih Kristus. Pelayanan medis dan pelayanan pastoral, oleh karena itu, bukanlah dua bidang yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua dimensi yang saling melengkapi dalam mewujudkan misi penyembuhan Kristus. Penutup Pelayanan penyuluh agama di rumah sakit St. Damian Lewoleba adalah pengejawantahan nyata dari kasih Allah yang bekerja melalui Gereja dan negara demi menghadirkan kesejahteraan manusia secara utuh. Keberhasilannya tidak ditakar dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari sejauh mana penyuluh mampu menghadirkan harapan di tengah keputusasaan, meneguhkan iman di tengah pergulatan hidup, memulihkan martabat manusia yang terluka, serta membangkitkan keberanian untuk memaknai penderitaan sebagai jalan pertumbuhan menuju kepenuhan hidup. Dengan demikian, pelayanan penyuluh agama menjadi bagian integral dari upaya membangun pelayanan kesehatan yang berpusat pada pribadi manusia sebagai citra Allah yang memiliki martabat luhur dan tidak tergantikan. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang semakin maju, pelayanan kesehatan tetap memerlukan dimensi yang tidak dapat digantikan oleh mesin ataupun prosedur klinis, yakni kehadiran manusia yang mampu mendengarkan, menghibur, menemani, dan menghadirkan pengharapan. Kehadiran penyuluh agama mengingatkan bahwa kesembuhan sejati tidak hanya menyangkut pulihnya fungsi biologis tubuh, tetapi juga terciptanya rekonsiliasi dengan diri sendiri, sesama, alam ciptaan, dan Allah. Oleh karena itu, penyuluh agama sungguh menjadi custos spei – penjaga harapan – yang melanjutkan karya Kristus Sang Tabib Agung melalui pelayanan yang holistik, dialogis, inklusif, dan berakar pada spiritualitas belas kasih. Akhirnya, sinergi antara tenaga kesehatan, penyuluh agama, keluarga pasien, dan seluruh unsur pelayanan rumah sakit menghadirkan sebuah paradigma kesehatan yang utuh, pemulihan kehidupan dalam seluruh dimensinya. Di dalam paradigma inilah RS St. Damian Lewoleba tidak hanya menjadi tempat orang berobat, tetapi juga ruang di mana martabat manusia dihormati, iman diteguhkan, harapan dipulihkan, dan kasih Allah dialami secara nyata. Dengan demikian, kehadiran penyuluh agama bukanlah pelengkap pelayanan kesehatan, melainkan bagian integral dari misi kemanusiaan yang menghadirkan wajah Gereja yang berbelaskasih dan negara yang melayani demi terwujudnya kehidupan yang semakin bermartabat bagi setiap orang. Tentang Penulis Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil., M.Th. lahir di Flores Timur pada 19 April 1975. Saat ini, ia bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata dengan jabatan fungsional Penyuluh Agama Katolik. Wilayah binaannya mencakup Kecamatan Nubatukan dan Atadei. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di STFK Ledalero pada tahun 2005 dan meraih gelar Magister (S2) dari institusi yang sama pada tahun 2009. Sumber *Alkitab Katolik: Kejadian1:27, Markus 2:1-12; 5:25-34 dan Lukas 10:25-37 *Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium Et Spes, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2021. *CB. Kusmaryanto, Pastoral Care Orang Sakit, Yogyakarta: Kanisius, 2023. *Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1997. *Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan oleh H. Embuiru, Ende: *New Charter for Health Care Workers, Roma: Libreria Editrice Vaticana, 2016. *Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28 E dan Pasal 29. *Yohanes Paulus II, Paus. Salvifici Doloris, diterjemahkan oleh J. Hadiwikarta, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993. Post Views: 11 Navigasi pos SI ANAK NAKAL ITU TELAH PERGI (Eulogi alm Sinun Petrus Manuk)