Time Loop dan Simulasi Emosi dalam The Great Flood Oleh : Sahira Diniy Khairun Nisa NIM : 244114028 Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta (Penulisan Opini dan Resensi Dalam Rangka Ujian Akhir Semester) WARTA-NUSANTARA.COM— Film bencana biasanya menawarkan pola cerita yang relatif serupa. Penonton diajak menyaksikan kehancuran yang terjadi akibat bencana alam, lalu mengikuti perjuangan para tokoh untuk bertahan hidup. Namun, The Great Flood karya Kim Byung-woo mencoba keluar dari pola tersebut. Alih-alih hanya berfokus pada ancaman banjir yang menenggelamkan kota, film ini menghadirkan kisah yang lebih kompleks mengenai ingatan, kecerdasan buatan, dan emosi manusia. Kim Byung-woo sendiri dikenal melalui film thriller The Terror Live yang berhasil membangun ketegangan melalui ruang yang terbatas. Pendekatan serupa kembali terlihat dalam The Great Flood. Ketegangan tidak hanya muncul dari bencana yang mengancam para tokohnya, tetapi juga dari misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita. Film ini berpusat pada An-na, seorang peneliti kecerdasan buatan yang hidup bersama Ja-in. Ketika sebuah bencana besar menyebabkan banjir menenggelamkan Seoul, An-na berusaha menyelamatkan diri dengan mencari tempat yang lebih aman di dalam gedung tempat mereka berada. Dalam perjalanan tersebut, ia mendapat bantuan dari Hee-jo, anggota tim keamanan perusahaan. Pada bagian awal, film terlihat seperti kisah bertahan hidup yang cukup konvensional. Penonton diperlihatkan suasana kota yang kacau, air yang terus naik, serta berbagai usaha para tokoh untuk menghindari kematian. Visual banjir yang mendominasi layar membuat penonton percaya bahwa ancaman terbesar dalam film ini adalah bencana alam itu sendiri. Namun, keadaan berubah ketika An-na meninggal dan kembali terbangun pada waktu yang sama. Peristiwa tersebut terjadi berulang kali hingga akhirnya terungkap bahwa seluruh kejadian yang disaksikan penonton sebenarnya merupakan simulasi yang dirancang oleh perusahaan tempat An-na bekerja. Fakta ini mengubah cara pandang penonton terhadap seluruh cerita yang telah berlangsung sebelumnya. Setelah unsur simulasi diperkenalkan, perhatian film bergeser pada proses pembentukan emosi dalam kecerdasan buatan Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman, ingatan, dan hubungan dengan orang lain menjadi bagian penting. Melalui An-na dan Ja-in, penonton melihat bagaimana emosi tidak hanya dipahami sebagai data, tetapi juga sebagai sesuatu yang dibentuk oleh pengalaman. Dari sisi karakter, An-na menjadi pusat kekuatan emosional film ini. Kim Da-mi mampu menampilkan sosok yang tidak hanya cerdas sebagai peneliti, tetapi juga rapuh sebagai manusia yang harus menghadapi kehilangan dan ketidakpastian. Emosi yang ditampilkan terasa cukup meyakinkan sehingga penonton dapat memahami keputusan-keputusan yang diambil karakternya sepanjang cerita. Hubungan antara An-na dan Ja-in juga menjadi elemen penting dalam membangun kedalaman cerita. Film tidak banyak menggunakan dialog panjang untuk menjelaskan hubungan mereka. Sebaliknya, kedekatan tersebut ditunjukkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang membuat ikatan emosional keduanya terasa lebih alami. Pendekatan ini menjadi salah satu kelebihan film karena mampu menghadirkan emosi tanpa terkesan berlebihan. Sayangnya, tidak semua karakter memperoleh pengembangan yang sama kuat. Hee-jo yang cukup sering muncul sepanjang film justru terasa kurang dieksplorasi. Penonton mengetahui perannya dalam cerita, tetapi tidak memperoleh pemahaman yang cukup mendalam mengenai latar belakang maupun motivasinya. Akibatnya, karakter tersebut terkadang terasa hanya berfungsi untuk mendukung perjalanan tokoh utama. Selain alur cerita, kekuatan lain The Great Flood terletak pada visual dan sinematografinya. Sebagian besar cerita berlangsung di ruang-ruang tertutup yang perlahan dipenuhi air. Pilihan latar tersebut menciptakan suasana yang menekan dan membuat ancaman terasa lebih dekat. Penonton tidak hanya melihat bencana dari kejauhan, tetapi seolah ikut terjebak bersama para tokohnya. Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada visual banjir yang ditampilkan. Apartemen yang menjadi latar utama tampak seperti sebuah pulau kecil yang terapung di tengah lautan luas. Air yang terus naik dan menelan ruang demi ruang menciptakan kesan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman. Melalui visual tersebut, film berhasil membuat penonton dapat merasakan cemasnya dan ketidakberdayaan para tokoh. Meski menawarkan konsep yang menarik, The Great Flood tidak sepenuhnya berhasil memaksimalkan semua gagasannya. Pengungkapan mengenai simulasi muncul cukup terlambat sehingga bagian awal film terasa berjalan lambat. Beberapa penonton mungkin akan merasa boring sebelum cerita mencapai titik balik utamanya. Selain itu, sejumlah konsep yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan simulasi masih terasa kurang dieksplorasi. Film memperkenalkan banyak ide menarik, tetapi tidak semuanya mendapat penjelasan yang memadai. Karakter Hee-jo juga terasa kurang memperoleh ruang pengembangan. Meskipun memiliki peran penting dalam perjalanan An-na, latar belakang dan motivasinya tidak digali lebih jauh. Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, The Great Flood tetap berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda. Film ini membuktikan bahwa kisah bencana tidak selalu harus berbicara tentang kehancuran, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi cerita yang memadukan ketegangan, emosi, dan kejutan alur yang tidak terduga. Bagi penonton yang mencari tontonan bencana dengan ledakan dan aksi tanpa henti, film ini mungkin terasa lebih lambat dari yang diharapkan. Namun, bagi mereka yang menikmati cerita dengan misteri, refleksi, dan plot twist, The Great Flood menawarkan pengalaman yang lebih menarik daripada sekadar kisah bertahan hidup di tengah bencana. Pada akhirnya, film ini menunjukkan bahwa sebuah bencana dapat menjadi latar yang efektif untuk menghadirkan cerita yang lebih emosional dan tidak biasa. *** Sahira Diniy Khairun Nisa, Penulis adalah Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Post Views: 15 Navigasi pos Dari Obligasi Daerah ke Blended Finance: Menakar Jalan Masuk Danantara dalam Pembiayaan PSN Daerah Harta Karun Hijau dari Pesisir Lembata: Malapari Menunggu Bibit, Bukti, dan Pasar