Catatan Lepas dari Pelatihan Public Speaking & Homiletik Paroki Santo Arnoldus Bekasi
Oleh : Robaert Bala


WARTA-NUSANTARA.COM– Sudah dari minggu lalu (31/1/26) saya ingin menulis tentang pelatihan di Paroki Arnoldus Bekasi. Tapi baru pagi ini sempat duduk tenang dan menuangkannya. Ya, late post. Tapi rasanya tetap layak dibagikan, karena maknanya besar—dan dalam.


Pertama, pelatihan ini diikuti sekitar 190 prodiakon. Sejujurnya, ini adalah pelatihan dengan peserta terbanyak yang pernah saya jalani. Aula Paroki Arnoldus nyaris penuh sesak. Deg-degan? Jelas. Bukan cuma karena pesertanya banyak, tapi juga karena rasanya seperti pulang ke rumah sendiri: Arnoldus Janssen.


Begitu masuk gereja, mata saya langsung tertuju pada gambar Santo Arnoldus. Tatapannya terasa “hidup”. Seolah bertanya, “Hei… Robert… kamu ngapain ke sini?”
Dan saya langsung teringat: Santo Arnoldus-lah—secara tidak langsung—yang “menyekolahkan” saya ke Madrid untuk belajar homiletik. Di sana, saya menulis tesis tentang Aktualisasi Pesan dalam Khotbah (Actualización del Mensaje en la Predicación), dibimbing oleh dua teolog pastoral ternama Spanyol: José Luis Maldonado dan Casiano Floristán.

Dari sana saya makin yakin: homili harus selalu diaktualisasi. Harus ada pesan baru. Jangan melulu “yang itu-itu saja”. Kalau isinya datar dan repetitif, umat bukan cuma bosan—bisa ngantuk. Duduk sambil berdoa, tapi batinnya satu: “Kapan ini selesai?” Dan ketika imam bilang “Amin”, umat menjawab paling kencang. Karena itulah momen yang ditunggu.
Tatapan Santo Arnoldus hari itu seakan masih menyisakan banyak pertanyaan—terlalu banyak untuk dituliskan di sini. Tapi setidaknya, saya sedikit pede menjawabnya: dengan segala keterbatasan, saya masih bisa berbagi di dua paroki SVD di Bekasi—Arnoldus dan Bartolomeus Taman Galaxy. Bahkan di Paroki Bartolomeus, pelatihan dilakukan dua kali dalam satu tahun (Maret dan November 2025).
Kedua, dari sekitar 380 pasang mata (ya, kita hitung normalnya dua mata per orang), terlihat jelas satu hal: ada pengakuan bersama bahwa pelatihan seperti ini memang dibutuhkan—yang praktis, relevan, dan kontekstual.
Pelatihan berlangsung dari pukul 08.10 sampai 15.30. Anehnya, tidak terasa melelahkan. Di akhir acara, Pastor Paroki, Rm. Cypri Wagung, SVD, sempat bertanya,
“Kae (kaka), capek ya seharian?”
Saya jawab jujur, “Sekarang sih belum terasa. Mungkin nanti sampai rumah baru tumbang.” Yang bikin tetap segar adalah antusiasme peserta. Hampir di setiap sesi, tangan yang terangkat harus dibatasi karena terlalu banyak. Itu hiburan sekaligus energi luar biasa.
Ketiga, bukan hanya di Paroki Arnoldus, tapi dari sekitar 15 paroki di KAJ yang sudah mengikuti pelatihan, terlihat pola yang sama. Hampir semua prodiakon punya niat baik, tapi masih sangat membutuhkan keterampilan membawakan renungan.
Membaca teks renungan memang bisa. Tapi sering kali terasa ada yang kurang “hidup”. Padahal, dalam ibadat—terutama ibadat kedukaan—yang hadir bukan hanya umat Katolik, melainkan orang dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan pengalaman hidup. Sayang sekali kalau momen sepenting itu hanya diisi dengan membaca teks seadanya. Padahal, di sanalah Injil bisa benar-benar menyentuh.
Selain ibadat lain seperti siraman, berkat rumah, ulang tahun perkawinan, bahkan midodareni, ibadat kedukaan adalah yang paling sering melibatkan prodiakon.
Keempat, kebutuhan itulah yang melatarbelakangi lahirnya buku MENGIRINGI KEMATIAN—berisi 73 renungan/homili ibadat kematian. Awalnya, ada permintaan agar saya menuliskan juga teks ibadatnya. Tapi saya agak “kekeh”. Bukan karena menolak, melainkan karena buku ibadat kematian sebenarnya sudah banyak dan bagus.
Yang lebih dibutuhkan justru ini: tema yang kontekstual. Orang meninggal karena sakit panjang, kecelakaan, wafat di usia muda—semuanya punya cerita dan luka yang berbeda. Kalau diolah dengan baik, setiap situasi bisa menjadi pintu masuk pesan Injil yang kuat dan menghibur.
Awalnya buku ini direncanakan dicetak 400 eksemplar. Tapi dalam waktu singkat, langsung melonjak sampai 1.100 eksemplar. Bahkan saat pelatihan di Arnoldus, bukunya habis. Masih ada pesanan beberapa puluh eksemplar lagi, sampai akhirnya harus cetak ulang. Semua ini sekaligus jadi bekal untuk pelatihan-pelatihan selanjutnya, baik di KAJ maupun Keuskupan Bogor. (Di Bogor sendiri, pelatihan sudah dilakukan dua kali di Paroki Cibinong dan sekali di Paroki Sukabumi.)
Kelima, ada satu komentar kecil dari seorang netizen ketika saya memposting soal pelatihan ini:
“Pak Robert, bukankah para pastor juga perlu dilatih atau minimal disegarkan cara berkhotbah mereka?”
Saya terdiam. Lalu hanya membalas dengan emotikon 👍.
Rasanya komentar itu ada benarnya. Tapi soal ini, saya memilih tidak banyak bicara. Masuk ke wilayah itu butuh doa panjang—dan mungkin juga mati raga ekstra. Tetapi yang pasti, kalau suatu saat doa ini dikabulkan, saya akan berusaha maksimal, terutama mengkombinasikan dengan cara mengajar agar para pastor tidak bosan. Kebetulan dalam beberapa tahun terakhir, saya riset dan akhirnya menulis tentang Creative Teaching, Mengajar Mengikuti Kemautan Otak, juga buku Menjadi Guru Hebat Zaman Now. Barangkali dalam membawakan homili, para pastor juga perlu mengikutsertakan cara-cara mengajar / berkhotbah menarik agar lebih menyentuh umat (Amin).
Demikian catatan ringan dari Paroki Arnoldus Bekasi. Sebuah pengalaman yang melelahkan secara fisik, tapi menguatkan secara batin.
Robert Bala. Penulis buku MENJADI GURU HEBAT ZAMAN NOW. Penerbit Gramedia, 2020, cetakan ke-4.












