YBR  DAN TIKUS DI RUMAH SUCI

YBR  DAN TIKUS DI RUMAH SUCI

Olrh : Germanus Attawuwur

Warga Nusa Tenggara Timur, Tinggal di Kota Kupang.

 WARTA-NUSANTARA.COM–  Penulis sebenarnya tidak ingin menulis tentang YBR, bocah berusia 10 tahun yang ditemukan tidak bernyawa lagi. Kasus ini sudah begitu viral. Tetapi saya akhirnya memilih untuk menulis sebagai refleksi sosial berkenaan dengan seruan nabi Yesaya hari ini.

“Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes.58:7)”

Ketika mendengar penggalan seruan Yesaya yang dibaca hari ini, spontan pikiranku kembali kepada kisah memiluhkan YBR, bocah yang tidak mendapatkan apa seperti yang diserukan nabi Yesaya. Pikiran saya ternyata tidak berhenti di situ saja. Saya teringat akan judul buku yang ditulis Romo Sipri Senda, Pr yang sedang gencar dipromosikan minggu ini. Judulnya:”Tikus di Rumah Suci.” Jujur, saya belum membaca buku tersebut. Namun hemat saya, judul ini adalah ungkapan kejujuran sekaligus keberanian Sang Penulis yang adalah seorang Imam Keuskupan Agung Kupang, sekaligus dosen bagi calon imam untuk “mengeritik diri”. Judul ini dipilih tentu bukan tanpa alasan. Judul ini juga bukan tiba-tiba muncul, kalau bukan berangkat dari refleksi panjang. Sang Penulis pasti punya moment untuk melakukan apa yang disebut oleh Pater Paul Glynn, SM dengan Perjalanan Kembali Ke Dalam Diri Sendiri.

Paul Glynn menulis:” Tempat yang paling menarik sekaligus tidak menyenangkan adalah Perjalanan Kembali Ke Dalam Diri Sendiri.” Pertama: Kembali ke dalam diri sendiri adalah suatu hal yang paling menarik karena inilah jalan dan sikap hidup yang darinya seseorang dapat memperoleh inspirasi dan seketika itu mendapatkan kekuatan untuk membaharui motivasi hidup serta merevisi strategi kerja.”

Kedua:” Perjalanan kembali ke dalam diri, sering tidak menyenangkan karena kita akan berjumpa dengan kekurangan, kelemahan, kekeliruan, cacat-celah dan dosa-dosa kita.”

Romo Sipri  sudah berjalan kembali ke dalam dirinya sendiri. Dari sana beliau mengintrospeksi diri tetapi juga meretrospeksi kekinian kaum berjubah yang sedang berada “Di Rumah Suci.”

 

Tikus di Rumah Suci.

Tentu hanyalah sebuah kebetulan bahwa judul buku ini dipromosikan pasca terjadi peristiwa tragis yang menimpah YRB. Namun, saya coba merefleksikan dengan berusaha mengaitkan peristiwa ini dengan judul buku itu. Peristiwa yang saya sebut sebagai in memoriam passionis, – kenangan akan penderitaan -.

 

Gaudium et Spes No.1 (Kegembiraan dan Harapan) Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II (1965) menegaskan solidaritas Gereja dengan umat manusia.” Kegembiraan dan  harapan, duka, dan kecemasan orang zaman sekarang, terutama yang miskin dan menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus juga. Gaudium et Spes No.1)

 

Solidaritas Gereja dengan umat manusia, teristimewa mereka yang miskin dan terlantar, kemudian menjadi salah satu traktat kuliah Teologi Pembebasan yang diajarkan pada bangku-bangku Filsafat dengan istilah mentereng:” Preferential option for the poor.” (Pilihan untuk mendahulukan mereka yang miskin).

 

YRB, tentu tidak pernah mendengar tentang slogan humanis hingga dia menutup usianya. Mamanya juga tentu demikian. Apalagi neneknya! Mereka tidak dengar kata-kata manis itu. Tetapi tentu ibu dan nenek YRB sering mendengar kotbah kaum berjubah dari atas mimbar yang menyetir ayat-ayat suci – sebagaimana seruan nabi Yesaya – untuk mengajak umatnya agar peduli sesama sebagai wujud  kasih.

Dengan semangat berapi-api mereka berkotbah tentang Cura Hominum, – penyelamatan manusia seutuhnya, namun rupanya retorika itu hanya menggema di ruang-ruang suci. Dinding-dinding biara enggan membuka diri untuk turut serta dalam bela rasa terhadap YRB. YRB (dan tentu saja YRB-YRB yang lain) semula menjadi “some body” (seseorang)  pada akhirnya meregang nyawa oleh seutas tali karena dia justru sebagai “no body” (bukan siapa-siapa). Dalam hal ini gereja abai pada aspek pelayanan paripurna. Oleh Nabi Yesaya, gereja telah  menyembunyikan diri terhadap saudaranya sendiri. Gereja abai terhadap penderitaan YRB. Gereja telah sekian lama menyembunyikan diri  di balik tembok biara terhadap nasib YRB dan YRB yang lain!

 

Gesture Solidaritas Konkrit.

Keberpihakan Gereja terhadap orang miskin, sebagaimana seruan Konsili Vatikan II tentu diejawantahkan dalam Reksa Pastoral, baik itu tingkat paroki, keuskupan, Konferensi Wali Gereja (KWI) bahkan Gereja Mondial dalam aksi yang disebut Aksi Solidaritas. Artinya, jika ada program untuk tanggap darurat kemanusiaan, maka sejatinya ada uang, – ada anggarannya -. Pertanyaannya adalah, mengapa dana solidtaritas tidak menjangkau orang-orang seperti YRB? Apakah karena ada tikus di rumah suci?

Jika ada tikus di rumah suci, maka mereka (tentu tidak semua) adalah manusia terkategori NATO (No Action Talk Only). Atau orang Kupang bilang, hanya habis di omong sa. Mulutnya berbusa-busa meneriakan hukum kasih, tetapi mereka justru adalah predator yang sedang menjadi tikus, yang  berasyik masgul menggerogoti hak orang-orang miskin dan menderita. Nurani mereka tidak menarik ingin untuk berbela rasa dengan YRB dan YRB lainnya.

Maka tikus-tikus di rumah suci perlu camkan baik-baik seruan Paus Leo XIV untuk melakukan apa yang beliau sebut gesture solidaritas konkrit. Gesture solidaritas konkrit adalah penegasan dari verba docent exempla trahunt (kata-kata mengajar contoh menarik). Jangan hanya jadi manusia lip service atau lebih parah lagi menjadi Tikus Di Rumah Suci.

Germanus Atawuwut, Penulis adalah Warga Nusa Tenggara Timur, Tinggal di Kota Kupang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari kelabu, tepatnya 29 Januari 2026, YRB, bocah berusia 10 tahun tersebut ditemukan tidak bernyawa pada 29 Januari 2026, setelah diduga mengakhiri hidupnya sendiri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diduga mengalami tekanan batin karena orang tuanya tidak memiliki uang untuk membeli perlengkapan sekolah sederhana, yakni buku dan pena, yang harganya tak sampai Rp10.000.

Latar belakang kehidupan korban sangat memprihatinkan. Sejak dalam kandungan, ia telah ditinggalkan oleh ayahnya. Sang ibu, yang bekerja serabutan sebagai petani, harus menghidupi lima orang anak seorang diri.

 

Karena himpitan ekonomi, korban tinggal terpisah dari ibunya dan menetap bersama neneknya yang sudah renta berusia 80 tahun. Sehari-hari, mereka bertahan hidup dengan mengonsumsi ubi dan pisang hasil kebun. Korban yang merupakan anak bungsu dikenal rajin membantu neneknya berjualan sayur dan kayu bakar.

“Tetangga melihat anak ini mungkin merasa beban hidup terlalu tinggi. Tiap hari dia pengolahan (bekerja), itu lapar. Dia tinggal dengan omanya yang sudah tua,” ujar Kepala Desa Batajawa, Philipus Jio.

Pesan Terakhir untuk Ibu

Sebelum ditemukan meninggal, korban sempat menginap di rumah ibunya. Saat hendak kembali ke rumah neneknya diantar tukang ojek, sang ibu sempat berpesan agar korban rajin bersekolah. Namun, takdir berkata lain. Korban meninggalkan pesan perpisahan yang ditulis dalam bahasa daerah Bajawa yang ditujukan untuk ibunya.

Mirisnya, keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan ini dikabarkan luput dari daftar penerima bantuan pemerintah.

Menurut informasi, keluarga ini semula adalah penduduk kabupaten Nagekeo. Namun kemudian migrasi ke Bajawa. Menetap sudah sebelas tahun. Gara-gara identitas kependudukan tidak jelas inilah yang menjadi alasan pemerintah  tidak menggelontorkan bantuan sosial. Maka cercaan ditujukan kepada pemerintah, mulai pada level paling bawah hingga level paling atas.

 

Nia Liman, misalnya menulis dalam Wartanusantara-com: Tetapi jika kita melihat lebih dalam, anak ini tidak melakukan bunuh diri. Ia dihabisi oleh kekerasan sistemik, sebuah bentuk kekerasan yang tidak berdarah, tidak menggunakan senjata api, tetapi sungguh mematikan melalui kebijakan, prosedur, dan pengabaian birokrasi yang kaku.

 

Di tengah badai kritik dan hujatan pemerintah tidaklah tinggal diam. Mereka bergerak cepat. Walau terlambat, tetapi lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali.

Maka berbagai media online menulis tentang kunjungan gubernur NTT pasca tragedy itu. Kunjungan gubernur dilukiskan oleh  media online Lintas NTT sebagai:” Menyentuh Luka dengan Empati.”

 

Di hadapan warga, Gubernur MLL mengakui kelalaian pemerintah. Selain itu hadirnya juga mewakili Negara untuk meminta maaf atas kelalaian ini.

 

Sebagai bentuk pembenahan administrasi gubernur dengan tegas mendorong proses hukum pihak yang mempermainkan data kemiskinan.

Sementara itu di pihak lain, tragedy ini menjadi acuan Evaluasi dan Pembenahan Pendataan dan Program Penanggulangan Kemiskinan

 

Di hadapan warga, Gubernur MLL mengakui kelalaian pemerintah. Selain itu hadirnya juga mewakili Negara untuk meminta maaf atas kelalaian ini.

 

Di Manakah Gereja-api berkotbah?

 

Bukankah YBR dan ibunya adalah juga warga gereja? Menyadari bahwa YBR adalah juga warga gereja, seorang teman kantorku dengan mata berkaca-kaca bertanya:” Di manakah pihak gereja?” Bukankah pihak gereja selalu berapi-api berkotbah tentang

Alarm Psikologis Anak

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan perlindungan anak.

 

Hari Kelabu

 

Dia telah Tiada

 

Dia Tinggalkan Kisah Tercabiknya Rasa Kemanusiaan

 

Tikus Di Rumah Suci

 

Gerakan Gesture Solidaritas Konkrit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *