Robert Bala

ANTARA KAKI DAN MATA

Ide homili inspiratif, Hari Minggu Biasa ke XIX, 9 Agustus 2026, dari Injil Matius 14: 22 – 33.

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—  Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Ke mana mata memandang, ke sana hati melangkah.” Injil hari ini (Mat. 14:22-33) memperlihatkan betapa benarnya pepatah itu. Di tengah badai, Petrus melakukan sesuatu yang mustahil: ia berjalan di atas air. Namun, hanya beberapa saat kemudian, ia mulai tenggelam. Mengapa?

Menariknya, masalah Petrus bukan terletak pada kakinya, melainkan pada matanya. Selama mata Petrus tertuju kepada Yesus, ia berjalan dengan mantap. Ia melihat Yesus berdiri di atas air, sehingga ia pun berani melangkah. Kakinya tidak memiliki kekuatan ajaib. Yang memberinya keberanian adalah tatapannya yang tidak lepas dari Yesus.

Namun, Injil mengatakan bahwa ketika Petrus merasakan tiupan angin dan melihat besarnya ombak, ia menjadi takut. Tatapannya beralih. Ia tidak lagi memandang Yesus, melainkan memandang kakinya sendiri yang sedang berdiri di atas air. Ia melihat ombak, kedalaman laut, dan ancaman di sekelilingnya. Saat itulah ia mulai tenggelam.

Perhatikan baik-baik. Ombaknya tidak bertambah besar. Anginnya tidak semakin kencang. Airnya tetap sama. Yang berubah hanyalah arah pandangan Petrus. Inilah pesan Injil yang sangat relevan bagi kehidupan kita. Sering kali kita berdoa agar Tuhan menghilangkan semua masalah kita. Padahal, Tuhan tidak selalu langsung menenangkan badai. Sebaliknya, Ia lebih dahulu mengajarkan kita untuk tetap memandang-Nya di tengah badai.

Banyak orang tenggelam bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena mereka terlalu lama memandang masalah itu. Pikiran dipenuhi kecemasan, hati dikuasai ketakutan, dan masa depan terlihat gelap. Kita terus menghitung ombak: ekonomi yang sulit, kesehatan yang menurun, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, atau kegagalan yang belum selesai. Semakin lama mata tertuju pada semua itu, semakin kecil keberanian yang kita miliki.

Sebaliknya, orang yang memandang Kristus memperoleh kekuatan yang tidak selalu mengubah keadaan, tetapi mengubah cara menghadapi keadaan. Iman bukanlah menutup mata terhadap kenyataan, melainkan melihat kenyataan melalui terang kehadiran Kristus.

Dalam dunia pendidikan, kita juga sering terjebak pada “pandangan ke bawah”. Seorang murid hanya melihat nilai yang rendah lalu merasa dirinya bodoh. Seorang guru hanya melihat kesalahan murid lalu kehilangan harapan. Orang tua hanya melihat kenakalan anak lalu menganggap masa depannya sudah gagal. Padahal, Yesus mengajak kita mengangkat pandangan lebih tinggi. Di balik setiap kelemahan selalu ada kemungkinan pertumbuhan. Di balik setiap kegagalan selalu ada kesempatan untuk bangkit.

Demikian pula dalam kehidupan keluarga. Ketika suami dan istri hanya memandang kekurangan pasangan, rumah tangga akan dipenuhi kekecewaan. Ketika orang hanya memandang luka masa lalu, mereka sulit menikmati berkat hari ini. Fokus yang salah membuat hati perlahan tenggelam.

Petrus memberi teladan yang indah. Ketika ia mulai tenggelam, ia tidak berpura-pura kuat. Ia tidak mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hanya berseru singkat, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan seketika itu juga Yesus mengulurkan tangan-Nya. Tangan Kristus selalu lebih cepat daripada tenggelamnya manusia yang mau berseru kepada-Nya.

Setiap kita pasti memiliki badai. Tidak seorang pun menjalani hidup tanpa ombak. Namun Injil hari ini mengajarkan bahwa yang menentukan bukanlah seberapa besar ombak yang kita hadapi, melainkan ke mana mata kita tertuju.

Jika mata hanya tertuju pada ketakutan, kita akan kehilangan harapan. Jika mata hanya tertuju pada masalah, kita akan tenggelam dalam kecemasan. Tetapi jika mata tetap tertuju kepada Kristus, kita akan menemukan keberanian untuk terus melangkah, sekalipun ombak belum reda.

Karena itu, marilah kita belajar dari Petrus. Jangan biarkan mata kita lebih sibuk menghitung ombak daripada mencari wajah Tuhan. Jangan biarkan kaki kita berhenti melangkah hanya karena mata kita kehilangan arah.

Ingatlah selalu kalimat sederhana ini: “Bukan besarnya ombak yang menentukan hidup kita, tetapi kepada siapa mata kita tertuju.” Selama pandangan kita tetap tertuju kepada Kristus, kita akan selalu menemukan tangan-Nya yang siap menopang, menguatkan, dan mengantar kita sampai ke seberang.

Robert Bala. Penulis buku MEMAKNADAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ke-2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *