Kampus Ursulin Santa Angela Atambua dan FST UNWIRA Rintis Buku Mulok Sains-Budaya TIMOR : WARTA-NUSANTARA.COM— Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, bersama Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang memulai langkah kolaboratif dalam merancang buku muatan lokal (mulok) berbasis sains dan budaya. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung di Aula SD Santa Angela Atambua pada Jumat, 10 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi dan kesepakatan informal yang telah dibangun sebelumnya antara kedua institusi. Acara dihadiri oleh Kepala Sekolah SD Santa Angela, para guru SD, tenaga kependidikan, serta guru-guru SMA Santa Angela yang berada di bawah naungan Yayasan Ananta Bhakti. Sekitar 25 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusias. Tim Dosen FST UNWIRA yang terlibat terdiri atas Dr. Maximus M. Taek, Dionisia Hariani Nada, S.Si., M.Sc., Faustina de Yesu Prisila Abi, S.Si., M.Si., dari Program Studi Kimia, serta Gerardus D. Tukan, M.Si., dari Program Studi Teknologi Pangan. Dalam pemaparannya, Ketua Tim, Dr. Maximus M. Taek, memperkenalkan konsep buku suplemen muatan lokal IPA Sekolah Dasar berjudul Mengenal Tumbuhan Obat Tradisional Orang Timor. Buku tersebut dirancang sebagai media pembelajaran yang memperkenalkan sepuluh jenis tumbuhan obat tradisional yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Timor. Setiap tumbuhan disajikan secara lengkap, mulai dari nama dalam bahasa daerah, nama Indonesia, nama ilmiah, manfaat dalam pengobatan tradisional, hingga kandungan senyawa aktif yang telah dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah. Menurut Maximus, buku ini dikembangkan untuk menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pengintegrasian ilmu pengetahuan dengan budaya lokal diharapkan mampu membuat konsep-konsep sains lebih mudah dipahami sekaligus menumbuhkan minat belajar anak terhadap sains sejak usia dini. Pendekatan kontekstual tersebut diyakini dapat membangun fondasi yang kuat bagi peserta didik untuk mencintai ilmu pengetahuan pada jenjang pendidikan berikutnya. Setelah pemaparan, tim dosen memperlihatkan draf buku kepada para peserta untuk memperoleh berbagai masukan. Diskusi difokuskan pada penggunaan bahasa, penyajian materi, serta kesesuaian isi buku dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar sehingga nantinya benar-benar menjadi bahan ajar yang mudah dipahami dan menarik. Suasana diskusi berlangsung dinamis. Berbagai ide dan pengalaman pembelajaran di sekolah turut memperkaya penyempurnaan konsep buku. Salah satu guru SD Santa Angela, Cergiana H. Sasi, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa sekolahnya telah berhasil mengembangkan inovasi pembuatan eco-enzyme dari limbah buah bersama para siswa hingga meraih Juara II tingkat nasional. Ia menyampaikan bahwa sekolah berkeinginan terus mengembangkan potensi lokal melalui berbagai inovasi ramah lingkungan, termasuk pembuatan obat nyamuk alami berbahan tumbuhan. Oleh karena itu, buku muatan lokal berbasis sains dan budaya dinilai sangat relevan sebagai sarana pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas peserta didik sekaligus memperkenalkan kekayaan daerah. Masukan tersebut memicu diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya mendokumentasikan pengetahuan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat. Para guru mengusulkan agar berbagai bentuk kearifan lokal dapat diolah menjadi materi pembelajaran sehingga tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber belajar yang kontekstual dan menarik bagi anak-anak. Kepala SD Santa Angela Atambua, Gorgonia Valeria Oki, S.Sos., Gr., menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh tim dosen FST UNWIRA. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pengembangan muatan lokal yang mampu memadukan sains dengan kearifan budaya daerah. Selama ini sekolah telah berupaya memenuhi kebijakan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan muatan lokal, terutama pada aspek pelestarian bahasa daerah. Namun, keterbatasan model pembelajaran dan bahan ajar masih menjadi tantangan utama. Gorgonia menilai konsep buku yang ditawarkan FST UNWIRA mampu memberikan contoh nyata mengenai pengembangan bahan ajar yang mengintegrasikan pengetahuan tentang tumbuhan obat tradisional, bahasa daerah, serta praktik pengobatan tradisional dalam satu kesatuan pembelajaran yang utuh. Ia berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut hingga proses penyusunan dan penerbitan buku sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan ajar di Kampus Santa Angela. Pada kesempatan yang sama, Gorgonia juga mengungkapkan rencana pihak sekolah untuk kembali mengundang tim dosen FST UNWIRA pada kegiatan kunjungan studi banding dari Santa Ursula Baucau, Timor-Leste, yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, sekolah berharap para dosen dapat memperkenalkan konsep pengembangan muatan lokal pada berbagai bidang ilmu lain, seperti ekonomi, teknologi, dan disiplin ilmu yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa depan. Kolaborasi antara Fakultas Sains dan Teknologi UNWIRA Kupang dan Kampus Ursulin Santa Angela Atambua ini diharapkan menjadi awal yang baik dalam pengembangan bahan ajar muatan lokal yang tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian kearifan budaya Timor, tetapi juga memperkuat literasi sains peserta didik melalui pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan berakar pada potensi daerah ***(Gerady Tukan). Post Views: 19 Navigasi pos “Yang Penting Jadi Suporter”: Pesan Ica kepada Gubernur NTT tentang Ekosistem Pendidikan