MELAKUKAN HAL YANG BERARTI Oleh Robert Bala Robert Bala Sebuah kehormatan. Jumat, 18 September 2026, saya mengikuti perayaan HUT ke-20 Saint John Catholic School Kencana Loka BSD. Misa dipimpin oleh Mgr Adrianus Sunarko, OFM. Uskup Keuskupan Pangkal Pinang. WARTA-NUSANTARA.COM— Uskup yang juga teolog ini mengawali homili dengan bertanya apakah usia 20 tahun itu muda atau sudah tua? Pertanyaan kemudian dilanjutkan, apakah meski ketika usia semakin tua, kita lebih senang masih disebut: tetap awet muda? Pertanyaan ini menjadi pemantik dan dilanjutkan dengan inti refleksi berikut yang saya rumuskan dengan cara lain. Langkah kaki mungkin melambat dan rambut dapat memutih seiring berjalannya waktu. Namun, usia sejatinya hanyalah angka; ia tidak pernah memiliki kuasa untuk memadamkan jiwa yang memilih untuk terus menyala. Kisah seorang uskup asal Brasil berusia 80 tahun memberikan kita teladan yang begitu indah. Di usianya yang telah lanjut, beliau tetap dipercayakan memimpin Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Brasil—sebuah ladang pelayanan yang sarat akan energi dan jiwa muda. Ketika ditanya mengenai rahasia semangatnya yang tak pernah padam, ia memberikan jawaban sederhana namun mendalam: kuncinya adalah tak henti-hentinya melakukan sesuatu yang berguna. Melakukan hal yang bermanfaat bagi sesama bukan sekadar mengisi waktu, melainkan cara kita memperluas jaringan kebaikan dan kebenaran di dunia. Sesuatu disebut perbuatan baik karena membawa dampak positif bagi orang lain. Tindakan seperti ini tentu tidak dilakukan secara kebetulan tetapi melalui pengorbanan dari diri kita. Untuk dapat memberi kita tentu harus mengambil dari apa yang selama ini kita pelihara untuk diri kita. Santu Paulus menekankan hal ini dengan sangat jelas: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Tetapi tidak saja kebaikan. Nilai kebaikan perlu berakar pada kebenaran (anchored in truth). Kebenaran memiliki level yang lebih tinggi. Kita tidak sekadar melakukan tindakan karitatif yakni memberi tangan kanan yang tidak perlu diketahui tangan kiri tetapi merancangnya sehingga meluas secara perlahan pada tindakan kebaikan terstruktur. Ketika kita sudah melakukan hal baik dan benar secara konsisten, apakah hal itu akan selesai? Tidak. Sebuah kebaikan yang terus menerus atau dalam baahasa Santu Paulus, ketika dilakukan dengan tak jemu-jemunya, maka akan menjadi bahan pembicaraan. Hal ini bisa kita lakukan pada institusi di mana kita berada, pada lembata pendidikan, dan organisasi apapun yang memungkinkan kebaikan dapat menyebar dan menjangkau lebih banyak orang. Bila kebaikan sudah dilakukan dengan ‘tak jemu-jemunya’ dan secara konsisten maka hal itu dapat menjadi pembicaraan. Tentu pembicaaan tidak sekadar untuk mendapatkan pujian tetapi karena kebaikan itu dibicarakan sebagai sebuah sharing tentang kebaikan yang sudah dirasakan. Berbicara baik? Ya, “berbicara baik” adalah terjemahan dari bahasa Latin bene dicere. Dari sinilah berakar kata benedictio atau berkat. Dengan kata lain, ketika kita sibuk menabur hal-hal yang berguna, kita sedang mengundang aliran berkat masuk ke dalam hidup kita. Orang-orang yang menerima manfaat dari kebaikan kita secara tidak langsung memperkatakan hal-hal yang baik atas hidup kita. Robert Bala. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA. Penerbit Kanisius Yogyakarta. Cetakan ke-3. Post Views: 21 Navigasi pos MENGHITUNG JAM ORANG LAIN