Agama  

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Oleh : Steph Tupeng Witin, SVD

Yoh 20:19-31

WARTA-NUSANTARA.COM–  Tuhan yang bangkit menampakkan diri kepada para murid. Kepada mereka yang telah meninggalkan-Nya, Dia menawarkan belas kasih dan menunjukkan luka-luka-Nya. Kata-kata yang diucapkan-Nya kepada mereka diselingi dengan salam sebanak tiga kali dalam Injil: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19;21;26). Kedamaian selalu bersamamu. Ini adalah kata-kata Yesus yang bangkit ketika Ia menghadapi setiap kelemahan dan kesalahan manusia. Kata-kata itu memberikan kegembiraan, pengampunan dan menawarkan ketenteraman.

Ketika para murid melihat dan mendengar Dia berkata pertama kali, “Damai sejahtera bagi kamu”, mereka bersukacita (Yoh 20:20). Mereka mengunci diri di balik pintu tertutup karena takut, mereka juga menutup diri, dibebani perasaan gagal. Mereka telah meninggalkan Guru pada saat penangkapan-Nya. Mereka telah melarikan diri. Petrus bahkan menyangkal-Nya tiga kali dan salah satu dari mereka telah mengkhianati-Nya. Mereka memiliki alasan untuk merasa tidak hanya takut, tetapi juga tidak berguna. Mereka telah gagal. Ketakutan merajalela dan mereka melakukan dosa besar:  meninggalkan Yesus sendirian pada saat-Nya yang paling tragis. Sebelum Paskah, mereka mengira ditakdirkan untuk kebesaran. Mereka berdebat siapa yang terbesar diantara mereka. Sekarang mereka telah mencapai titik terendah.

Oplus_16908288

Kehadiran Yesus membuat para murid bersukacita. Injil memberitahu kita, “bersukacitalah murid-murid itu, ketika mereka melihat Tuhan” (Yoh 20:20). Mereka teralihkan dari diri mereka sendiri dan kegagalan masa lalu lalu merasa didekap oleh Yesus, tidak dengan kekerasan tetapi belas kasih. Kristus tidak mencela apa yang telah mereka lakukan, tetapi menunjukkan kepada mereka kebaikan-Nya. Ia menghidupkan, mengisi hati mereka dengan kedamaian yang telah hilang dan menjadikan mereka “orang baru”, dimurnikan oleh pengampunan yang sama sekali tidak pantas mereka terima.

Santo Petrus meneguhkan kita bersama Umat Allah di Asia Kecil. Kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati telah memberi kita suatu hidup yang penuh pengharapan. Kita menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kita semua (1Ptr 1:3-4). Pada saat surat tersebut ditulis, umat yang tersebar di wilayah Asia Kecil sedang mengalami penderitaan di bawah tekanan sosial, politik, dan penindasan Kaisar Nero. Karena iman kepada Kristus, hidup mereka menjadi tidak mudah dan tidak aman. Meskipun di Roma, Rasul Petrus juga mengalami hal yang sama, tetapi terus menyadarkan umat akan identitas dan martabat para murid Kristus, yakni “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib’ (1Ptr.2:10).

Di manapun murid Kristus berada, dari abad pertama hingga kini, iman selalu membuat hidup tidak selalu mudah dan nyaman. Sejak zaman Kekaisaran Romawi hingga zaman modern, kekerasan terhadap martabat manusia dipertontonkan melalui kecanggihan alat-alat pembunuh dan perusak. Sungguh mengerikan kita saksikan kekerasan verbal di media sosial: orang saling memaki, melukai dan menyerang sesama. Sedahsyat itu kejahatan dan kemampuan manusia merusak rasa damai. Aneka kejahatan juga ada di sekitar kita. Semakin canggih kemampuan manusia berbuat jahat, menipu dan berdosa. Pada Agustus 2002, Paus Santo Yohanes Paulus II telah menyerukan bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan Kerahiman Ilahi. Semua orang Krisen dipanggil menghadirkan misi kerahiman Allah itu.

Tuhan kita bukanlah Tuhan virtual, dalam dunia maya. Inkarnasi menjadi tanda: Tuhan mendambakan perjumpaan nyata dengan kita. Dia ingin dekat dan berjuang bersama kita. Kematian Yesus terjadi setelah darah-Nya ditumpahkan dan tubuh-Nya hancur oleh penderitaan. Tidak ada yang virtual di sana. Hanya ada cinta nyata. Paskah mesti jadi momen berahmat agar hidup kita menjadi perjumpaan-perjumpaan nyata dengan sesama yang membawa sukacita kehidupan. Hari ini Dia mengajak kita untuk berbelas kasih dengan sesama dalam tindakan kecil dan sederhana seperti yang diteladankan jemaat perdana: saling berbagi dalam kekurangan dan beterbatasan. ***

Exit mobile version