MENYERAHKAN “YANG SEDIKIT” Renungan Minggu Biasa ke-XVIII | Injil Matius 14:13-21, 2 Agustus 2026 WARTA-NUSANTARA.COM— Hari Sabtu, 25 Juli lalu, saya berkesempatan berbagi dalam seminar “Berbuah di Usia Senja” di Keuskupan Bogor. Di tengah sesi, seorang lansia curhat tentang rasa lelahnya melayani. Beliau merasa tak lagi mampu dan menganggap orang muda jauh lebih layak. “Saya ini cuma punya semangat sebisanya,” bisiknya pasrah. Sebelum saya menjawab, seorang ibu lansia lain menyela dengan kalimat yang memukau seluruh ruangan: “Yang terutama dari kita itu memberi apa yang kita bisa. Walau terasa tak cukup, Tuhan yang akan mencukupkan. Tugas kita cuma menyerahkan apa yang ada. Itu sudah segalanya.” Kalimat sederhana itu adalah kunci untuk memahami Injil hari ini. Berhadapan dengan ribuan orang yang kelaparan di tempat sunyi, para murid memutar otak dengan logika yang sangat masuk akal: “Suruh mereka pergi ke desa-desa untuk beli makanan!” Mengapa? Karena modal mereka “terlalu sedikit” dan “tidak cukup”—hanya lima roti dan dua ekor ikan. Logika para murid berfokus pada apa yang tidak ada: kekayaan yang kurang, fasilitas yang absen, dan kemampuan yang terbatas. Logika inilah yang sering membelenggu kita hari ini. Kita kerap menggunakan keterbatasan sebagai “senjata” untuk mundur dari tanggung jawab. Ketakutan akan ketidakcukupan adalah cemas yang sangat manusiawi. Kita merasa kerdil berhadapan dengan kebutuhan dunia dan gereja yang begitu raksasa. Namun, kabar gembira Injil hari ini menyapa dengan sangat membebaskan: Tuhan tidak pernah menuntut apa yang tidak kita miliki; Ia hanya meminta apa yang ada pada kita. “Bawalah kemari kepada-Ku,” kata Yesus. Tuhan juga tidak menuntut para murid agar meminta pinjaman (apalagi pinjaman online) agar dapat menyelesaikan masalah. Tidak. Tuhan tanpa menyalahkan para murid yang mengeluh, ia meminta agar mereka membawa apa yang ada pada mereka (meski sedikit). Bawalah kemari kepadaKu. Inilah kalimat yang kita ucapkan setiap kali menerima komuni: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat 11: 28). Inilah titik balik mukjizat itu. Yesus tidak meminta sepuluh ribu roti gandum premium. Ia hanya meminta lima roti dan dua ikan asin kecil itu. Yang Tuhan minta bukanlah menjadi jenius, kaya raya, atau orator ulung. Yang Ia minta hanyalah keberanian dan kerendahan hati untuk menyerahkan yang sedikit itu ke dalam tangan-Nya. Saat diserahkan kepada Kristus, Ia mengucap syukur, memecahkannya, dan membagikannya. Apa yang tadinya tak berarti, di tangan Sang Pencipta berubah menjadi cukup—bahkan tersisa 12 bakul! Berapa banyak dari kita yang menarik diri dari pelayanan atau enggan menolong sesama hanya karena berpikir, “Ah, saya tak punya bakat,” atau “Sumbangan saya terlalu kecil untuk mengubah keadaan”? • Kita menahan senyum dan waktu untuk menyapa tetangga yang kesepian karena merasa tidak pinter bicara. • Kita ragu berderma karena nominalnya tipis. • Kita enggan terlibat di paroki karena merasa bukan siapa-siapa. Padahal, mukjizat kelimpahan Allah selalu dimulai saat kita berani membagikan keterbatasan. Kisah berikut tentang “Sup Batu” bisa menjadi penutup renungan. Seorang pengembara tua datang ke desa kelaparan dan merebus kuali berisi air dan sebuah batu kali. Penduduk yang tadinya menutup pintu rapat-rapat mulai penasaran. Pengembara itu berkata, “Sup batu ini makin nikmat kalau ada sebatang wortel.” Seorang ibu tergerak menyumbang sebatang wortel layu. “Andai ada sebutir kentang dan sejumput garam…” tambah pengembara. Bapak lain membawa kentang kecil, tetangga sebelah membawa garam, yang lain membawa sepotong daging sisa. Secara individual, barang-barang itu tidak cukup memberi makan siapa pun. Namun saat dikumpulkan ke dalam satu kuali besar, jadilah sup gurih yang mengenyangkan seluruh desa! Mukjizat sup itu terjadi bukan karena batu ajaib, melainkan karena keberanian semua orang untuk mengumpulkan apa yang sedikit pada mereka. Mukjizat penggandaan 5 roti dan 2 ekor ikan dan kisah tentang ‘Sop Batu’ mengingatkan kita bahwa jangan biarkan keterbatasan membuat kita berkecil hati. Lihatlah apa yang ada di tangan Anda hari ini—waktu 10 menit untuk mendengarkan teman yang stres, senyuman hangat, atau tenaga yang tersisa—dan serahkanlah kepada Yesus. Di tangan Kristus, keterbatasan kita tidak pernah menjadi penghalang, melainkan pintu masuk bagi mukjizat kasih-Nya. Tuhan tidak meminta apa yang tidak kita miliki; Ia menyempurnakan apa yang kita serahkan kepada-Nya. Amin. Robert Bala. Penulis buku SUCCESSFUL AGING, Sukses di Usia Senja, Penerbit Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Post Views: 22 Navigasi pos Satu Abad Serikat Santa Ana: Kemenag Lembata Tegaskan Keluarga sebagai Benteng Iman dan Karakter Generasi