Senja yang Tak Sempat Mengucap Rasa Oleh: M.S. Rifai A. Mukin, M. Pd.CPIM WARTA-NUSANTARA.COM— Ada pertemuan yang begitu diinginkan, tetapi tidak selalu diberi kesempatan untuk terjadi. Ada pula perasaan yang tumbuh diam-diam, mengakar dalam hati, namun tak pernah menemukan jalan untuk diucapkan. Barangkali begitulah kisah sebagian manusia: hidup dalam harapan untuk bertemu, sambil memahami bahwa tidak semua kerinduan akan sampai pada tujuannya. Barangkali aku ingin bertemu lagi. Keinginan itu sederhana, sebagaimana pagi yang selalu menanti kehadiran matahari. Setiap fajar lahir dengan keyakinan bahwa cahaya akan datang menyapanya. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut. Pagi dan matahari adalah dua hal yang seolah ditakdirkan untuk saling melengkapi. Begitu pula hati manusia. Kadang ia menyimpan harapan untuk kembali melihat seseorang yang pernah memberi warna dalam hidupnya, meski hanya untuk memastikan bahwa kenangan itu benar-benar pernah ada. Barangkali aku ingin melihatmu sekali lagi. Bukan untuk meminta sesuatu, bukan pula untuk mengubah apa yang telah berlalu. Hanya sekadar melihat, seperti bulan yang selalu akrab dengan gelap. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Gelap memberi ruang bagi bulan untuk bersinar, sementara bulan memberi makna pada malam yang sunyi. Ada orang-orang yang kehadirannya demikian dalam hidup kita; mereka menjadi bagian dari cerita yang membentuk diri kita, bahkan ketika akhirnya harus berjalan ke arah yang berbeda. Namun hidup tidak selalu menghadirkan pertemuan yang diharapkan. Ada jarak yang tak mampu dijangkau langkah. Ada waktu yang bergerak terlalu cepat. Ada keadaan yang membuat seseorang memilih diam daripada mengungkapkan apa yang sesungguhnya dirasakan. Di sinilah kerinduan sering berubah menjadi kenangan, dan harapan perlahan belajar menerima kenyataan. Mungkin pada akhirnya aku akan berakhir seperti senja. Senja selalu hadir dengan warna-warna yang indah, namun keindahannya hanya sesaat. Ia datang untuk berpamitan kepada siang sebelum malam mengambil alih. Di ufuk barat, senja seakan ingin mengatakan banyak hal kepada bulan yang akan segera muncul. Tetapi ketika bulan datang, senja telah lebih dahulu pergi. Mereka berada dalam satu langit yang sama, namun tidak pernah benar-benar bertemu. Begitulah perasaan yang tak sempat diucapkan. Ia hidup dalam diam, tumbuh dalam doa, lalu perlahan menjadi bagian dari masa lalu. Bukan karena kurang kuat untuk disampaikan, melainkan karena waktu tidak selalu berpihak pada keberanian. Kadang seseorang baru menyadari betapa berharganya sebuah kesempatan ketika kesempatan itu telah berlalu. Meski demikian, tidak semua rasa yang tak terucap harus disesali. Sebagian perasaan memang diciptakan untuk mengajarkan ketulusan. Ia tidak menuntut balasan, tidak memaksa pertemuan, dan tidak mempersoalkan akhir cerita. Ia hanya hadir untuk menunjukkan bahwa hati manusia masih mampu mencintai, menghargai, dan merindukan dengan cara yang paling sunyi. Jika kelak pertemuan itu tidak pernah terjadi lagi, maka biarlah kenangan tetap hidup sebagai bagian dari perjalanan. Sebab tidak semua kisah harus berakhir dengan kebersamaan. Ada kisah yang cukup dikenang sebagai cahaya kecil yang pernah menerangi langkah, seperti senja yang meski tak sempat mengucap rasa kepada bulan, tetap meninggalkan warna indah di langit sebelum menghilang. Dan mungkin, dalam keheningan itu, senja telah mengatakan segalanya. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan keindahan yang ditinggalkannya. Catatan: Keluh kesahnya persahabatan yang telah rapuh oleh zaman. Tentang Penulis Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Penakar Literasi, Pendiri Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) Lembata Post Views: 103 Navigasi pos Merajut Prestasi dari Timur: Belajar dari Madrasah Inovatif di Kota Pendidikan Skripsi Bukan Arena Ego: Refleksi Kritis atas Tragedi Kesehatan Mental Mahasiswa di Undana Kupang NTT